Pelabuhan Pulau Baai: Nasib Mu Kini?

Business, Ekonomi, News11 Dilihat

Syaiful Anwar. AB
Dosen UNIHAZ Bengkulu

 

Kawan, pendangkalan Pelabuhan pulau Baai terulang Kembali, ditambah cuaca buruk, semakin cepat sedimentasi masuk. Kondisi ini berakibat terganggunya pasokan Bahan Bakar Minyak ke Propinsi Bengkulu. Pelabuhan P Baai memang vital, tak dapat dipungkiri! Oleh karena itu berbagai Upaya, metoda memelihara kedalaman alur! Berikut ini sumbang saran yang telah diberikan oleh para ahli dan tidak kurang-kurang!

Pertanyaannya, siapa yang harus mengeksekusi Tindakan Tindakan pemeliharaan ini? Apakah PT. Pelindo, Departemen Perhubungan Cq. Dirjen perhubungan laut, tentu pengawasan oleh pemerintah daerah! Pemerintah daerah, mendapat tugas tambahan memantau perkembangan penanganan Pelabuhan, walaupun secara tupoksi mungkin tidak!

Ada spekulasi di Tengah-tengah Masyarakat, bahwa Pelabuhan pulau baai sudah tidak layak. Karena itu harus dibuat Pelabuhan baru.

Permasalahan sedimentasi di Pelabuhan Pulau Baai Bengkulu harus diatasi dengan kombinasi metode struktural dan non-struktural. Metode-metode utama tersebut meliputi: Metode Struktural dan Rekayasa. Pengerukan (Dredging): Ini adalah metode paling umum dan terus-menerus dilakukan untuk mengatasi sedimentasi yang sudah terjadi. Tujuannya adalah mengembalikan dan memelihara kedalaman alur pelayaran agar dapat dilalui kapal-kapal besar.

Pengerukan Pemeliharaan (Maintenance Dredging): Dilakukan secara rutin untuk menjaga kedalaman alur, mengingat laju sedimentasi di sana cukup tinggi (diperkirakan mencapai 450.000 hingga 800.000 m³ per tahun). Pengerukan Skala Besar/Bertahap: Proyek pengerukan besar juga dilakukan untuk mencapai kedalaman tertentu (misalnya hingga -12 meter) agar kapal bertonase besar dapat bersandar langsung, mengurangi kebutuhan transhipment di tengah laut.

Penerapan Teknologi Sand By passing: Metode ini melibatkan pemindahan pasir (sedimen) secara mekanis dari satu sisi penghalang (seperti breakwater atau muara pelabuhan) ke sisi lainnya (area abrasi). Tujuannya adalah menyeimbangkan proses alami transportasi sedimen di sepanjang pantai sambil menjaga alur pelayaran tetap dalam.

Pembangunan Struktur Perangkap/Penahan: Pembangunan jeti atau perpanjangan breakwater (pemecah gelombang) dari batu dapat digunakan untuk menahan transportasi sedimen agar tidak masuk ke alur pelayaran pelabuhan.

Pengaturan Tata Letak (Layout) Pelabuhan: Analisis hidrodinamika dan transport sedimen digunakan untuk menentukan tata letak yang optimal untuk meminimalkan masuknya sedimen ke dalam kolam pelabuhan.

Metode Non-Struktural (Pengelolaan Sumber)
Mengurangi Erosi di Hulu: Sedimentasi seringkali diawali oleh erosi di daerah tangkapan air (hulu sungai) yang materialnya kemudian terbawa ke laut. Upaya konservasi tanah dan air di hulu, seperti pengelolaan tata guna lahan yang tepat, dapat membantu mengurangi pasokan sedimen ke pelabuhan.

Pemodelan Numerik: Penggunaan model numerik dan studi hidrografi membantu dalam memahami proses sedimentasi yang terjadi dan mengevaluasi efektivitas berbagai metode penanganan sebelum diimplementasikan secara penuh.

Kombinasi metode pengerukan rutin dan rekayasa struktur pantai yang terencana merupakan pendekatan komprehensif untuk mengelola masalah sedimentasi yang signifikan di Pelabuhan Pulau Baai. Jadi, penanganan Pelabuhan Pulau Baai tidak bisa setengah setengah, harus totalitas. Bukankah sudah ada Inpres? Tidak ada alasan penanganannya setengah hati, kasian rakyat Bengkulu. Terus terulang kelangkaan Bahan bakar minyak, kalau begini ceritanya pertumbuhan 8 persen di akhir tahun kelima masa jabatan Pak Helmi Mian tidak akan tercapai! Salam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *