charger.my.id
Playodania Hadirkan Kelas Renang Untuk Ibu Hamil dan Bayi, Pertama di Bengkulu dengan Instruktur Bersertifikasi Internasional

Charger | Bengkulu – Playodania resmi membuka kelas Baby Swim dan Aqua Natal (Prenatal Water Exercise) setiap pagi, didampingi oleh instruktur bersertifikasi internasional, Fetty Puspita Sari, MC.C., HydroT (Certified Master Baby Swim & Aquanatal Pregnancy). Program ini menjadi salah satu layanan renang berbasis edukasi dan kesehatan yang kini semakin diminati di Bengkulu.

Kegiatan dimulai pukul 08.00–09.00 WIB untuk kelas Baby Swim, kemudian dilanjutkan pukul 09.00–10.00 WIB untuk kelas Aqua Natal bagi ibu hamil. Seluruh aktivitas berlangsung di Kolam Renang Playodania, yang kini telah dilengkapi fasilitas membran pelindung sehingga peserta tetap nyaman meski cuaca panas.

Fetty menjelaskan bahwa kelas Baby Swim dirancang khusus untuk bayi dan balita usia 12 hingga 36 bulan. “Hari ini saya start di Baby Swim dulu, jam 8 pagi. Baby Swim itu berenang buat bayi, dan di sini kita buka untuk umur 1 sampai 3 tahun,” jelasnya. Program ini bertujuan membantu perkembangan motorik, membangun keberanian anak dengan air, serta memperkuat ikatan orang tua dan anak melalui aktivitas di kolam.

Setelah Baby Swim, kegiatan dilanjutkan dengan Aqua Natal, yakni olahraga renang ringan yang dirancang bagi ibu hamil. “Di sini kita juga buka kelas prenatal water exercise atau aqua natal. Ini berenang buat ibu hamil dan baru pertama kali dibuka di sini. Lisensinya juga belum banyak di Bengkulu,” ujar Fetty. Menurutnya, manfaat Aqua Natal sangat besar, terutama bagi ibu yang mempersiapkan persalinan normal. “Manfaatnya lumayan banyak, apalagi bagi ibu yang pengen persalinannya normal. Sekitar 80% bisa kita bantu, sisanya kembali pada kehendak Tuhan. Yang jelas, renang ini bisa mengurangi nyeri, kram, kaki bengkak, dan rasa tidak nyaman,” tambahnya.

Ia menegaskan bahwa gerakan olahraga di air lebih aman dan ringan bagi ibu hamil. “Gerakan yang di darat susah dilakukan ibu hamil, seperti squat, di air bisa dilakukan lebih rileks,” katanya.

Program renang ini merupakan kolaborasi antara Naik Swim Team, Playodania, dan Tirta Rafflesia Swim Club. “Kita kerja sama dengan klub Naik Swim Team dan juga Playo Dania. Kalau mau tanya-tanya bisa lewat admin atau DM Instagram Tirta Rafflesia Swim Club,” jelas Fetty. Kelas di bawah naungan klub ini terbuka untuk seluruh rentang usia. “Kita mulai belajar dari baby sampai manula. Dari umur 1 tahun sampai 70 tahun pun masih bisa ikut. Ada kelas hidroterapi juga untuk ibu-ibu dan bapak-bapak yang punya keluhan kesehatan,” tambahnya.

Tiga Wartawan Diusir dari Grup WA OJK Bengkulu, Sikap Antikritik Lembaga Negara Kian Dipertanyakan

Charger | Bengkulu – Tindakan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bengkulu kembali menjadi sorotan setelah tiga wartawan dikeluarkan secara sepihak dari grup WhatsApp resmi lembaga tersebut hanya karena mengajukan pertanyaan terkait transparansi data kegiatan donor darah. Peristiwa ini menimbulkan kritik keras dan dinilai sebagai bentuk sikap antikritik lembaga yang seharusnya menjunjung keterbukaan informasi publik.

Insiden terjadi ketika wartawan Garis Keadilan, Ahmad Nasti Nasution, menanyakan dugaan ketidaksesuaian antara klaim OJK yang menyebut kegiatan donor darah menghasilkan 245 kantong, sementara data PMI justru menunjukkan jumlah yang jauh lebih sedikit. Pertanyaan itu, yang merupakan bagian dari verifikasi data, justru dibalas dengan tindakan pengusiran dari grup tanpa penjelasan apa pun.

“Awalnya saya hanya minta OJK speak up. Ini soal transparansi. Tapi saya malah dikeluarkan dari grup oleh Delpa (pengelola grup WA OJK) tanpa alasan,” ungkap Ahmad.

Alih-alih menjelaskan, pengelola grup justru memberi ancaman serupa kepada wartawan lain, Ameng, yang mempertanyakan tindakan tersebut. “Bang Ameng tanya kenapa saya dikeluarkan, malah ditanya balik: ‘Mau dikeluarkan juga?’ Begitu dijawab silakan, langsung dikeluarkan juga,” kata Ahmad.

Tindakan penghilangan anggota grup itu berlanjut. Iyud Dwi Mursito, Pemred Bengkulu Network, ikut dikeluarkan setelah membela para wartawan yang sebelumnya menjadi korban.

Para jurnalis menilai sikap OJK Bengkulu tersebut sebagai tindakan tidak profesional dan menunjukkan ketidakmampuan menerima pertanyaan kritis. Grup WhatsApp yang seharusnya menjadi wadah resmi penyampaian informasi kepada media, justru dikelola secara emosional dan tertutup.

“Kalau ada pertanyaan soal data saja langsung mengusir wartawan, bagaimana publik bisa percaya pada transparansi lembaga seperti OJK?” ujar salah satu jurnalis yang menyayangkan insiden tersebut.

Hingga berita ini diturunkan, OJK Bengkulu tidak memberikan penjelasan resmi apa pun mengenai alasan pengeluaran ketiga wartawan tersebut. Diamnya OJK semakin memperkuat kesan bahwa lembaga tersebut enggan menghadapi pertanyaan terkait akurasi data kegiatan yang mereka publikasikan sendiri.

Insiden ini memicu pertanyaan lebih luas mengenai komitmen OJK terhadap keterbukaan informasi, integritas data, dan hubungan profesional dengan media. Sebagai lembaga publik yang mengawasi sektor keuangan, OJK dituntut bersikap transparan, bukan justru alergi terhadap kritik dan konfirmatif.