charger.my.id
Inflasi Bengkulu Terkendali di Angka 2,6 Persen, BI Waspadai Kenaikan Harga Pangan Akhir Tahun

Charger | Bengkulu – Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Bengkulu mencatat inflasi daerah masih berada dalam kondisi ideal. Hingga saat ini, inflasi Bengkulu tercatat sebesar 2,6 persen, masih berada dalam rentang target nasional 2,5 persen ±1 persen.

Kepala BI Perwakilan Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan angka tersebut menunjukkan keseimbangan antara daya beli masyarakat dan keberlanjutan usaha produsen.

“Inflasi kita di angka 2,6 persen. Ini sebetulnya sudah sangat baik dan ideal, karena inflasi itu bukan soal serendah mungkin, tapi bagaimana menjaga keseimbangan. Konsumen harus terjaga daya belinya dan produsen juga harus tetap mau berproduksi,” ujar Wahyu usai High Level Meeting (HLM) di halaman Grage Bengkulu, Senin (15/11/2025).

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang memengaruhi inflasi tahun ini adalah basis inflasi tahun sebelumnya yang sangat rendah, yakni hanya 0,8 persen. Kondisi tersebut membuat kenaikan harga yang relatif kecil tetap tercatat signifikan dalam perhitungan inflasi.

Meski demikian, BI bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) tetap mewaspadai potensi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjelang akhir tahun, terutama cabai dan bawang merah. Peningkatan curah hujan serta bencana alam di beberapa daerah sentra produksi turut menjadi faktor risiko.

“Kecenderungan akhir tahun ini beberapa komoditas memang naik, terutama cabai dan bawang merah. Apalagi curah hujan sangat tinggi dan beberapa daerah pemasok juga terdampak bencana,” jelasnya.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BI menawarkan fasilitasi kepada pemerintah daerah dalam hal distribusi pangan antardaerah. Fasilitasi tersebut berupa bantuan ongkos kirim dari daerah sentra produksi lain, termasuk Pulau Jawa.

“Kalau pemerintah daerah mengintensifkan pembelian dari daerah sentra produksi lain, BI bisa memfasilitasi ongkos kirimnya. Misalnya ongkos kirim dari Jawa ke Bengkulu sekitar Rp5 juta, itu bisa kami bantu,” kata Wahyu.

Selain pengendalian inflasi, BI juga mendorong masuknya investasi di sektor peternakan dan perikanan. Wahyu mencontohkan Bengkulu Utara yang saat ini tengah dilirik investor untuk pengembangan tambak udang vaname serta pembangunan pabrik pakan ikan.

“Potensi sumber daya kita besar, jagung ada, bahan baku ada. Ini yang akan terus kita dorong melalui forum investasi agar investor, baik dari luar maupun dari dalam Bengkulu sendiri, bisa menanamkan modalnya,” ujarnya.

Ia menambahkan, peran pemerintah daerah melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) juga dapat dioptimalkan untuk mendukung pengembangan sektor-sektor strategis tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *