Charger | Bengkulu — Pelantikan pengurus DPD Asosiasi Kopi Seluruh Indonesia (ASKI) Provinsi Bengkulu menjadi momentum penting untuk mendorong kebangkitan industri kopi daerah agar tidak lagi sekadar menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu naik kelas hingga ke pasar global.
Mewakili Gubernur Bengkulu Helmi Hasan, Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan, M. Ikhwan, menyampaikan harapan besar terhadap kepengurusan ASKI periode 2026–2031 yang baru dilantik. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan pelaku industri kopi untuk mendorong hilirisasi serta peningkatan nilai tambah produk kopi Bengkulu.
Dalam sambutannya, Ikhwan menyoroti posisi strategis Bengkulu sebagai salah satu dari lima besar produsen kopi nasional. Dengan produksi mencapai 70.000 hingga 85.000 ton per tahun, Bengkulu menjadi bagian dari “segitiga kopi nasional” bersama Sumatera Selatan dan Lampung yang menyuplai sekitar 50 persen kebutuhan kopi Indonesia.
Namun demikian, ia mengakui bahwa sebagian besar kopi Bengkulu masih dipasarkan melalui provinsi lain, sehingga identitas daerah sebagai penghasil kopi belum maksimal dikenal. “Ibarat punya sapi, tapi susu yang dijual justru memakai merek orang lain,” ujarnya saat memberikan sambutan, Rabu 29 April 2026.
Pemerintah Provinsi Bengkulu sendiri telah mulai mendorong langkah konkret melalui program hilirisasi, salah satunya dengan peluncuran “Kopi Merah Putih” di Kabupaten Rejang Lebong. Program ini juga didukung oleh pendanaan kompensasi karbon sebesar Rp23,55 miliar yang sebagian besar dialokasikan untuk pengembangan kopi berbasis agroforestry.
Kopi Bengkulu dikenal memiliki keunggulan karena ditanam di bawah naungan hutan, yang tidak hanya menjaga kualitas, tetapi juga berkontribusi terhadap pelestarian lingkungan. Hal ini menjadi salah satu alasan Bengkulu mendapatkan dukungan internasional, termasuk dari Norwegia dalam program penguatan tata kelola hutan.
Selain itu, pemerintah tengah mendorong pembangunan kawasan industri di Pulau Baai agar masuk dalam Proyek Strategis Nasional. Jika terealisasi, kawasan ini diharapkan menjadi pusat hilirisasi kopi sehingga produk Bengkulu tidak lagi bergantung pada daerah lain untuk proses pengolahan.

Ketua Panitia Pelantikan, Julian Tanel, menyebutkan bahwa pelantikan diikuti sekitar 40 peserta yang terdiri dari pengurus, anggota, dan pelaku usaha kopi. Ia berharap ASKI dapat menjadi wadah kolaborasi bagi pengusaha kopi, baik pemula maupun yang sudah berpengalaman.
Sementara itu, Ketua DPD ASKI Bengkulu terpilih, Yosia Yodan, mengajak seluruh pelaku usaha untuk membangun kepercayaan diri dan memperkuat brand lokal. Ia menegaskan bahwa pelaku UMKM Bengkulu harus menjadi tuan rumah di daerah sendiri, terutama dalam menghadapi masuknya produk nasional dan global.
“Kalau kita berpikir kalah, kita akan kalah. Tapi kalau kita berpikir maju, kita akan maju,” tegasnya.
Ia juga mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui pelatihan berkelanjutan serta membuka peluang ekspor agar kopi Bengkulu dapat bersaing di pasar internasional.
Acara pelantikan ini digelar di Two K Azana Style Hotel dan dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk anggota DPR RI, perwakilan kementerian, serta pelaku usaha kopi.
Dengan terbentuknya kepengurusan baru ASKI, diharapkan Bengkulu tidak hanya dikenal sebagai produsen kopi, tetapi juga sebagai pusat industri kopi yang kuat, berdaya saing, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi masyarakatnya.









