Dipermainkan Janji, Driver TPA Sebakul Jadikan DPRD Kota Bengkulu Lokasi Pembuangan
Charger|Bengkulu — Puluhan driver Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sebakul menggelar aksi protes dengan membuang sampah di depan gedung DPRD Kota Bengkulu dan Kantor Wali Kota. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan terhadap Pemerintah Kota Bengkulu dan instansi terkait yang dinilai hanya memberikan janji namun tidak menindaklanjuti tuntutan mereka.
Salah seorang driver TPA Sebakul yang menjadi narasumber menyatakan bahwa aksi ini merupakan buntut dari dua kali demonstrasi yang mereka lakukan sebelumnya. Meski telah mendapat janji dari pemerintah daerah dan Dinas Lingkungan, hingga kini tak satupun realisasi yang terjadi.
“Kami sudah dua kali melakukan aksi. Kami dijanjikan oleh Pemda Kota dan DLA, tapi sampai sekarang tidak terlaksana,” ujar driver TPA Sebakul di lokasi aksi, Selasa (27/1).
Menurutnya, pada aksi kedua yang digelar di Kantor DPRD beberapa waktu lalu, pihak Pemerintah Kota — melalui Asisten III yang juga menjabat Kasat Satpol PP — sempat menghubungi perwakilan driver dan meminta waktu satu minggu hingga tanggal 15 Januari untuk menyelesaikan persoalan yang ada.
“Kami tunggu sampai tanggal itu, namun sampai sekarang tidak ada tindakan sesuai dengan apa yang dijanjikan,” katanya.
Para driver menyoroti kondisi jalan menuju TPA Sebakul yang sudah sangat rusak dan tidak layak dilalui kendaraan. Mereka mengaku telah berkali-kali menyampaikan permintaan perbaikan jalan kepada Pemerintah Kota, namun tidak pernah mendapat respons serius.
“Silakan masyarakat lihat kondisi jalan ke TPA sekarang. Kami sudah berkali-kali minta, tapi tidak pernah ditindaklanjuti,” tegas narasumber.
Selain persoalan jalan, para driver juga menghadapi kendala di TPA karena alat berat di lokasi tidak bisa beroperasi. Sejak pagi sekitar pukul 08.00 WIB, mereka mengaku sudah mengangkut sampah ke TPA, tetapi tidak bisa membuangnya karena alat berat tidak berfungsi dengan alasan tidak adanya bahan bakar minyak.
“Alasannya itu terus, alat tidak pernah ada minyak. Itu sudah berulang kali,” ujar narasumber.
Ia menambahkan bahwa jika Pemerintah Kota tidak mampu menangani persoalan ini, seharusnya pengelolaan TPA dapat diserahkan kepada pihak ketiga agar persoalan segera terselesaikan. Para driver juga mendapat tekanan dari masyarakat, karena warga menganggap sampah yang diambil pasti dibuang di TPA sesuai kewajiban mereka, sementara kenyataannya tidak bisa dibuang.
“Kami ditekan oleh masyarakat karena mereka bayar retribusi, sedangkan kami tidak bisa buang sampah,” ujarnya.
Para driver kemudian mengancam akan menggelar aksi yang lebih besar jika akses jalan ke TPA Sebakul tidak kunjung diperbaiki. Dalam aksi lanjutan, sekitar 100 unit mobil pengangkut sampah direncanakan akan dikumpulkan dan sampah akan dibuang di depan Kantor Wali Kota dan Gedung DPRD.
“Kami minta jalan ini diperbaiki, paling lambat pertengahan Februari sudah ada tindak lanjut dan selesai. Kalau tidak, kami akan lakukan aksi lebih besar,” tuturnya.
Jika jalan masih rusak dan tidak memungkinkan memasuki TPA, para driver menyatakan mereka akan tetap membuang sampah di mana pun, termasuk di pinggir jalan, sambil menunggu solusi dari pemerintah.
“Sampah tetap kami ambil dari masyarakat. Kalau di TPA tidak bisa, kami buang di mana saja,” pungkasnya. (Sudarwan Yusuf).