Diduga Keracunan MBG, Tujuh Murid SD 59 Kota Bengkulu Dilarikan ke Rumah Sakit

Daerah246 Dilihat

Bengkulu — Sebanyak tujuh murid SD Negeri 59 Kota Bengkulu diduga mengalami keracunan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG), Jumat (4/9/2026). Ketujuh siswa tersebut kemudian dibawa ke Rumah Sakit Kota Bengkulu untuk mendapatkan penanganan medis.

Peristiwa tersebut diketahui terjadi setelah makanan MBG dibagikan kepada para siswa sekitar pukul 09.00 WIB. Sejumlah siswa dilaporkan mulai mengalami keluhan sekitar 15 menit setelah menyantap makanan.

Makanan MBG yang dibagikan kepada siswa SD 59 Kota Bengkulu tersebut dikelola oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah Yayasan Damar Gizi Bangsa. Yayasan tersebut beralamat di kawasan Padang Jati, Kota Bengkulu.

Guru SD 59 Kota Bengkulu, Ningrum, mengatakan dirinya sempat mencium makanan sebelum dibagikan kepada siswa. Saat berada di kelas 2C, menurutnya kondisi masih aman dan tidak ditemukan masalah. Para siswa di kelas tersebut telah menyantap makanan, kemudian Ningrum kembali ke kantor.

Namun, ketika memeriksa makanan dalam ompreng yang diperuntukkan bagi guru, Ningrum mencium bau yang tidak sedap. Ia mengatakan makanan miliknya dan milik seorang guru bernama Pak Aji tercium seperti bau sempol ayam atau makanan sejenis.

Mencium bau tersebut, Ningrum kemudian melaporkannya kepada kepala sekolah melalui grup komunikasi sekolah.

“Setelah menerima laporan tersebut, Kepala Sekolah langsung menyampaikan agar makanan tidak dimakan dan pembagian kepada anak-anak dihentikan. Namun, saat itu sebagian anak sudah terlanjur makan,” ujar Ningrum.

Menurut Ningrum, siswa kelas 2B dan 2C telah menyantap makanan tersebut. Hingga informasi tersebut disampaikan, kondisi para siswa di kedua kelas tersebut dilaporkan baik dan tidak mengalami keluhan.

Sementara di kelas 2A, sejumlah orang tua siswa terlihat membeli susu untuk anak-anak mereka setelah mengetahui adanya dugaan masalah pada makanan. Ningrum mengatakan makanan di kelas tersebut juga tercium bau.

Selain itu, seluruh siswa kelas 4 juga telah menyantap makanan MBG. Dari total 38 siswa di kelas tersebut, tujuh orang kemudian dibawa ke rumah sakit.

Beberapa keluhan yang dialami siswa di antaranya muntah, pusing, sakit atau rasa tidak nyaman pada bagian perut, serta tubuh terasa lemas. Namun, saat keterangan diberikan, pihak sekolah belum memperoleh hasil pemeriksaan maupun diagnosis dokter mengenai kondisi para siswa.

“Pembagian makanan sekitar pukul 09.00. Kurang lebih 15 menit setelah makan, mulai ada reaksi pada beberapa anak,” kata Ningrum.

Ningrum menyebutkan, program MBG di sekolah tersebut sebelumnya dilaksanakan di Mahira. Sekitar empat bulan terakhir, lokasi penyedia makanan dipindahkan ke tempat yang berada di sekitar depan atau samping Bank Mandiri.

Menurutnya, kejadian tersebut merupakan persoalan pertama yang terjadi sejak lokasi penyedia makanan dipindahkan. Jumlah siswa yang menerima makanan MBG di sekolah tersebut sekitar 248 orang.

Pihak sekolah, kata Ningrum, telah berkomunikasi dengan pihak terkait dan masih menunggu tindak lanjut serta arahan lebih lanjut. Untuk sementara, pembagian makanan dihentikan.

“Kami juga akan mengambil tindakan. Kalau seperti ini tentu bermasalah karena risikonya besar dan menyangkut keselamatan anak-anak,” ujarnya.

Orang Tua Minta Keamanan Makanan Diperhatikan

Salah satu orang tua siswa yang diduga menjadi korban, Deddy, mengaku mendapat informasi mengenai kejadian tersebut secara mendadak. Begitu mengetahui anaknya dibawa ke rumah sakit, ia langsung menuju rumah sakit untuk memastikan kondisi anaknya.

Deddy merupakan orang tua Kenso Bintang Alvaro, siswa kelas 4A SD 59 Kota Bengkulu. Ia mengaku belum mengetahui secara rinci kronologi kejadian karena baru mendapatkan informasi saat anaknya sudah dibawa untuk mendapatkan penanganan medis.

Berdasarkan informasi sementara yang diterimanya, anaknya diduga mengalami keracunan setelah mengonsumsi makanan MBG. Deddy menyebut menu yang dikonsumsi antara lain pisang dan sempol. Ia juga mendapat informasi bahwa pisang yang dikonsumsi diduga dalam kondisi basi.

Meski demikian, Deddy mengatakan belum mengetahui secara pasti penyebab anaknya mengalami keluhan karena masih menunggu hasil pemeriksaan dan diagnosis dari dokter.

“Saya juga belum tahu mengenai diagnosisnya karena saya mendadak sampai di sini. Yang jelas nanti kita akan tahu dari hasil diagnosis,” kata Deddy.

Deddy mengaku terkejut dengan kejadian tersebut karena selama ini pelaksanaan MBG di sekolah yang diketahuinya berjalan aman dan tidak pernah mengalami persoalan serupa.

Ia berharap pihak yang bertanggung jawab atas penyediaan makanan MBG dapat lebih berhati-hati, terutama dalam memastikan kualitas dan keamanan makanan sebelum dikonsumsi siswa.

Menurut Deddy, persoalan tersebut menyangkut keselamatan anak-anak yang merupakan generasi penerus bangsa. Karena itu, ia meminta agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

Untuk sementara, Deddy mengaku akan melarang anaknya mengonsumsi makanan MBG sampai ada kepastian mengenai penyebab kejadian dan jaminan keamanan makanan.

“Sementara saya akan menghentikan dan melarang anak saya makan MBG dulu,” ujarnya.

Deddy juga meminta pihak pengelola SPPG dan Yayasan Damar Gizi Bangsa memberikan penjelasan mengenai kronologi dan penyebab dugaan keracunan tersebut, termasuk proses pengolahan serta pemeriksaan makanan sebelum dibagikan kepada siswa.

Ia menegaskan, apabila hasil pemeriksaan nantinya membuktikan adanya kelalaian yang menyebabkan anak mengalami dampak serius, dirinya tidak menutup kemungkinan menempuh langkah hukum.

“Kalau memang nanti sampai mengakibatkan fatal, saya pasti akan menuntut. Sebagai orang tua, saya tidak rela anak saya sampai mengalami hal-hal yang tidak kita inginkan,” katanya.

Hingga berita ini ditulis, penyebab pasti keluhan kesehatan yang dialami para siswa belum diketahui. Pihak sekolah masih menunggu hasil pemeriksaan medis dan tindak lanjut dari pihak terkait untuk memastikan apakah keluhan tersebut benar disebabkan oleh makanan MBG yang disalurkan melalui SPPG di bawah Yayasan Damar Gizi Bangsa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *