Wahyu Yuwana Hidayat: Ekspor Perdana Jadi Momentum Perkuat Ekosistem Kopi Bengkulu

Bank Indonesia45 Dilihat

Kepahiang – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan ekspor perdana kopi Bengkulu ke Italia merupakan momentum penting untuk memperkuat ekosistem kopi daerah sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi petani dan UMKM Bengkulu ke pasar global.

“Ekspor perdana ini menjadi momentum penting bagi kita untuk memperkuat industri kopi Bengkulu secara berkelanjutan. Ini bukan hanya tentang melepas satu kontainer kopi ke Italia, tetapi bagaimana kita membangun ekosistem kopi yang mampu menghasilkan produk berkualitas, memiliki kontinuitas, dan memenuhi kebutuhan pasar internasional,” ujar Wahyu.

Menurutnya, keberhasilan ekspor tersebut merupakan hasil dari proses panjang yang melibatkan berbagai pihak, mulai dari petani, koperasi, UMKM, agregator, pemerintah daerah, perbankan, hingga Bank Indonesia.

“Pengembangan kopi harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari sektor hulu, peningkatan kualitas produksi, proses pascapanen, pengolahan, penguatan kelembagaan dan UMKM, sampai dengan pemasaran dan ekspor. Karena itu, kolaborasi seluruh stakeholder menjadi sangat penting,” jelasnya.

Wahyu menilai Bengkulu memiliki modal yang kuat untuk mengembangkan kopi sebagai salah satu komoditas unggulan daerah. Selain memiliki basis produksi yang besar, kopi Bengkulu juga memiliki karakteristik dan kualitas yang berpotensi diterima oleh pasar internasional.

“Kita ingin kopi Bengkulu tidak hanya dikenal karena jumlah produksinya, tetapi juga karena kualitas dan karakteristiknya. Dengan peningkatan kualitas dan konsistensi produksi, kita optimistis kopi Bengkulu dapat semakin banyak masuk ke pasar internasional,” katanya.

Ia menambahkan, Bank Indonesia akan terus mendorong pengembangan UMKM kopi melalui tiga pilar utama, yaitu korporatisasi, kapasitas, dan pembiayaan. Ketiganya diperlukan agar pelaku usaha tidak hanya mampu menghasilkan produk berkualitas, tetapi juga memiliki kelembagaan yang kuat dan akses pasar serta pembiayaan yang semakin luas.

“Kita terus mendorong UMKM untuk naik kelas. Bukan hanya dari sisi produknya, tetapi juga dari kelembagaan, kapasitas produksi, akses pembiayaan, hingga kemampuan memenuhi standar dan permintaan buyer internasional,” ujar Wahyu.

Dalam konteks tersebut, menurut Wahyu, kurasi dan business matching menjadi bagian penting untuk mempertemukan produk UMKM dengan pasar yang tepat.

“Sebanyak 11 UMKM kopi Bengkulu telah mengikuti proses kurasi tahun ini. Selanjutnya kita fasilitasi melalui business matching dengan agregator maupun calon buyer. Harapannya, semakin banyak UMKM yang siap ekspor dan semakin banyak pula produk kopi Bengkulu yang dapat masuk ke pasar global,” jelasnya.

Wahyu juga menekankan pentingnya penguatan sarana dan prasarana pascapanen. Dukungan seperti rumah jemur, mesin color sorter green beans, dan mesin roasting diharapkan dapat membantu kelompok UMKM meningkatkan kualitas serta konsistensi produk.

“Kualitas kopi tidak hanya ditentukan saat berada di kebun, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh proses pascapanen dan pengolahan. Karena itu, dukungan sarana seperti color sorter dan mesin roasting menjadi bagian dari upaya kita meningkatkan nilai tambah dan daya saing kopi Bengkulu,” katanya.

Lebih lanjut, Wahyu menyampaikan bahwa pengembangan kopi juga perlu didukung dengan digitalisasi dan ketertelusuran produk. Melalui PADEK (Platform Asal Usul dan Dashboard Ekonomi Kopi) Bengkulu, buyer dapat memperoleh informasi mengenai asal-usul dan karakteristik kopi yang ditawarkan.

“Traceability menjadi semakin penting dalam perdagangan kopi global. Melalui PADEK, kita ingin memberikan informasi yang lebih transparan mengenai asal, karakteristik, dan pelaku usaha kopi. Ini sekaligus memperkuat identitas dan kredibilitas kopi Bengkulu di mata buyer,” ungkapnya.

Ia berharap ekspor perdana ke Italia tidak berhenti sebagai sebuah seremoni, tetapi menjadi awal dari terbukanya pasar-pasar baru bagi kopi Bengkulu.

“Kita berharap ekspor perdana ini menjadi pembuka bagi ekspor-ekspor berikutnya. Target kita bukan hanya satu kontainer, tetapi bagaimana ekspor kopi Bengkulu dapat terus meningkat, semakin banyak UMKM yang terhubung dengan pasar global, dan pada akhirnya memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi petani serta masyarakat Bengkulu,” pungkas Wahyu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *