Bengkulu, 15 Agustus 2026 — Wahdah Islamiyah Bengkulu menggelar Dialog Kebangsaan bertema “Kepemimpinan Bangsa dan Arah Indonesia Masa Depan” di Grage Hotel Bengkulu, Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah tokoh dan akademisi, yakni Prof. Dr. Abdul Hamid Habbe, M.Si. dari Makassar, KH. Muhammad Syamlan, Lc., Pimpinan PPIIT Rabbani Bengkulu, Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag., Guru Besar UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu, serta Dr. Surohim, M.Si., Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Bengkulu. Dialog dipandu oleh Dr. Taufik Ramadhan, M.M.
Dialog berlangsung terbuka dan konstruktif dengan membahas sejumlah persoalan strategis bangsa, mulai dari kualitas kepemimpinan, kedaulatan ekonomi, pendidikan, persatuan nasional hingga arah Indonesia dalam menghadapi tantangan masa depan.
Kedaulatan Ekonomi Jadi Fondasi Masa Depan
Prof. Dr. Abdul Hamid Habbe menekankan pentingnya membangun kedaulatan ekonomi nasional. Menurutnya, Indonesia harus memiliki kemampuan mengelola dan mengembangkan kekuatan ekonominya secara mandiri agar kekayaan bangsa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi rakyat.
Menurutnya, kedaulatan ekonomi tidak cukup hanya ditopang oleh kekayaan sumber daya alam. Indonesia juga membutuhkan kemampuan mengolah sumber daya tersebut, menciptakan nilai tambah, membangun industri nasional serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Indonesia, kata dia, perlu bergerak dari posisi sebagai pemasok bahan mentah menuju bangsa yang mampu menghasilkan produk bernilai tinggi dan memiliki daya saing di pasar global.

Pemimpin Harus Mengayomi Seluruh Komponen Bangsa
Sementara itu, Prof. Dr. H. Rohimin, M.Ag. menyoroti pentingnya kepemimpinan yang mampu mengayomi seluruh komponen bangsa.
Indonesia merupakan negara dengan keragaman suku, agama, budaya, bahasa dan latar belakang sosial. Karena itu, kepemimpinan nasional harus mampu merawat kebersamaan, membangun kepercayaan dan menghadirkan rasa keadilan bagi seluruh rakyat.
“Kepemimpinan tidak boleh hanya menjadi milik kelompok tertentu, tetapi harus mampu berdiri di atas kepentingan bangsa dan negara serta menjadi perekat di tengah keberagaman,” demikian pokok pandangannya dalam dialog tersebut.
Lima Pilar Menuju Indonesia sebagai Kekuatan Dunia
KH. Muhammad Syamlan, Lc. menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu kekuatan dunia. Modal tersebut antara lain berupa wilayah yang luas, kekayaan alam yang melimpah, posisi geografis yang strategis, jumlah penduduk yang besar serta sumber daya manusia yang terus berkembang.
Namun, potensi tersebut hanya akan menjadi kekuatan apabila dibangun di atas fondasi yang kuat. Ia menawarkan lima pilar utama yang perlu diperkuat.
Pertama, kepemimpinan yang berintegritas. Menurutnya, kejujuran lebih mahal daripada kecerdasan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki kemampuan intelektual, tetapi juga integritas, amanah dan keteladanan.
Ia mengingatkan bahwa Rasulullah ﷺ telah dikenal masyarakat dengan gelar Al-Amīn, yakni orang yang terpercaya, bahkan sebelum beliau diangkat menjadi Nabi.
Kedua, membangun sumber daya manusia yang unggul. Pendidikan, menurutnya, harus memadukan iman, ilmu, akhlak dan keterampilan. Bangsa yang besar bukan sekadar menghasilkan banyak sarjana, tetapi melahirkan manusia yang jujur, disiplin, kreatif, produktif, memiliki daya juang dan bertanggung jawab.
Ketiga, mewujudkan keadilan hukum tanpa pandang bulu. Hukum harus menjadi panglima dan berlaku adil bagi siapa pun. Ketidakadilan dalam penegakan hukum berpotensi melahirkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara.
Keempat, membangun kemandirian ekonomi. Indonesia harus mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri, membangun industri dan menciptakan nilai tambah dari sumber daya yang dimiliki. Kekayaan alam, menurutnya, harus menjadi instrumen kesejahteraan rakyat, bukan sekadar menjadikan Indonesia sebagai pemasok bahan mentah bagi negara lain.
Kelima, memperkuat persatuan nasional. KH. Muhammad Syamlan mengingatkan pentingnya persatuan sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Ali ‘Imran ayat 103:
“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”
Menurutnya, persatuan tidak berarti meniadakan kritik. Kritik yang disampaikan secara santun, ilmiah dan bertanggung jawab justru merupakan bentuk kecintaan kepada bangsa.
“Negara yang sehat adalah negara yang membuka ruang dialog, menerima kritik konstruktif dan terus melakukan perbaikan,” ujarnya.
Pendidikan dan Kepemimpinan Menentukan Masa Depan
Dalam perspektif pendidikan, Dr. Surohim, M.Si. menekankan pentingnya mempersiapkan generasi yang memiliki kapasitas intelektual sekaligus karakter yang kuat.
Perguruan tinggi dan lembaga pendidikan, menurutnya, memiliki peran strategis dalam melahirkan sumber daya manusia yang mampu menjawab tantangan zaman serta memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.
Pembangunan Indonesia juga tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan ekonomi. Pembangunan manusia harus menjadi bagian utama karena manusia merupakan subjek sekaligus penentu keberhasilan pembangunan.
Optimisme untuk Indonesia Masa Depan
Dialog Kebangsaan Wahdah Islamiyah Bengkulu menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak cukup dihadapi dengan keluhan dan pesimisme. Bangsa ini membutuhkan kepemimpinan yang amanah, sumber daya manusia yang unggul, hukum yang adil, ekonomi yang berdaulat serta persatuan nasional yang kokoh.
Dengan fondasi tersebut, Indonesia dinilai tidak hanya memiliki peluang untuk menjadi negara maju, tetapi juga berpotensi tampil sebagai salah satu kekuatan dunia.
“Indonesia bukan hanya memiliki peluang menjadi negara maju, tetapi juga berpeluang tampil sebagai kekuatan dunia, bahkan memimpinnya,” tegas KH. Muhammad Syamlan bersama Prof. Abdul Hamid dalam forum tersebut.





