Ekonomi Bengkulu Tumbuh 4,72 Persen di Triwulan I 2026, BI Optimistis Tren Positif Berlanjut

Bengkulu – Di tengah tekanan ekonomi global yang masih berlangsung, perekonomian Provinsi Bengkulu tetap mampu mencatatkan pertumbuhan positif. Bank Indonesia (BI) mencatat ekonomi Bengkulu tumbuh sebesar 4,72 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada Triwulan I 2026.

Capaian tersebut menjadi sorotan dalam Sarasehan Perekonomian dan Diseminasi Laporan Perekonomian Provinsi (LPP) Bengkulu Edisi Mei 2026 serta Kajian Fiskal Regional (KFR) yang digelar di Hotel Mercure Bengkulu, Selasa (28/7/2026).

Mengusung tema “Sinergi Moneter dan Fiskal: Memperkuat Stabilitas dan Optimisme Perekonomian Domestik guna Mendorong Intermediasi dan Investasi Berkualitas di Provinsi Bengkulu”, kegiatan tersebut mempertemukan pemerintah daerah, Bank Indonesia, serta berbagai pemangku kepentingan ekonomi.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Provinsi Bengkulu, R.A. Denni, mengatakan pertumbuhan ekonomi daerah menunjukkan fondasi yang cukup kuat di tengah berbagai tantangan global.

“Pertumbuhan ekonomi Bengkulu masih berada pada jalur yang positif. Hal ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi daerah cukup kuat dan mampu bertahan menghadapi berbagai dinamika yang terjadi,” ujarnya.

Menurut Denni, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Bengkulu. Selain itu, belanja pemerintah turut menjaga perputaran ekonomi, sementara investasi terus menunjukkan tren positif meski belum menjadi motor utama pertumbuhan.

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, menilai ketahanan ekonomi daerah tetap terjaga meski dunia masih dibayangi ketegangan geopolitik, tekanan inflasi global, serta tingginya suku bunga di negara-negara maju.

Ia mengatakan, kuatnya permintaan domestik menjadi salah satu faktor utama yang menjaga stabilitas ekonomi Bengkulu.

“Meski ketidakpastian global masih berlangsung, perekonomian Bengkulu tetap memiliki ruang untuk tumbuh. Kunci utamanya adalah menjaga sinergi kebijakan antara pemerintah daerah dan otoritas moneter agar stabilitas ekonomi tetap terpelihara sekaligus mampu mendorong investasi yang berkualitas,” kata Wahyu.

Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Bengkulu pada Triwulan II 2026 akan kembali meningkat. Peningkatan tersebut didorong oleh aktivitas ekonomi selama Hari Raya Iduladha, libur sekolah, Festival Tabut 2026, serta berbagai kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat.

Selain konsumsi rumah tangga, peningkatan ekspor dan belanja pemerintah juga diproyeksikan memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.

Secara keseluruhan, BI memperkirakan ekonomi Bengkulu sepanjang 2026 akan tumbuh pada kisaran 4,51 hingga 5,11 persen (yoy).

Dari sisi lapangan usaha, pertumbuhan diperkirakan ditopang sektor pertanian, perdagangan, transportasi, dan investasi yang selama ini menjadi tulang punggung perekonomian sekaligus penyerap tenaga kerja di Bengkulu.

Untuk komoditas unggulan, industri kelapa sawit dinilai masih memiliki prospek yang baik. Peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) dan crude palm oil (CPO) diperkirakan berlanjut seiring program peremajaan sawit, implementasi kebijakan biodiesel B50, serta masih tingginya permintaan pasar global.

Sebaliknya, sektor batu bara masih menghadapi tantangan akibat penyesuaian target produksi nasional, kebijakan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), serta dinamika pasar internasional.

“Komoditas unggulan Bengkulu tetap memiliki peran strategis sebagai penggerak ekonomi daerah. Sawit menunjukkan prospek yang baik, sedangkan sektor batu bara perlu terus diperkuat melalui pengembangan pasar domestik dan efisiensi rantai distribusi,” jelas Wahyu.

Dari sisi inflasi, Bengkulu mencatat angka 3,96 persen (yoy) pada Juni 2026. BI optimistis tekanan harga tetap terkendali melalui sinergi pemerintah daerah bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID).

Berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan, mulai dari peningkatan produktivitas pertanian, penguatan ketahanan pangan, kerja sama antardaerah, operasi pasar, hingga penguatan distribusi bahan pangan.

Di sektor perbankan, kondisi juga dinilai tetap sehat. Pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) dan penyaluran kredit terus meningkat, terutama pada kredit investasi, sementara rasio kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) masih berada pada level yang terkendali.

Dengan berbagai indikator tersebut, Bank Indonesia optimistis perekonomian Bengkulu mampu tumbuh secara inklusif dan berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, dunia usaha, lembaga keuangan, dan masyarakat dinilai menjadi kunci menjaga momentum pertumbuhan ekonomi daerah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *