Hari Ketiga Pencarian KM Arupadatu 1, Polri Perluas Penyisiran di Selat Sunda

Jakarta31 Dilihat

Jakarta – Harapan menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian terus dijaga. Memasuki hari ketiga operasi SAR, Polri bersama Basarnas dan seluruh unsur SAR gabungan kembali menyisir perairan Selat Sunda, Banten, dengan memperluas jangkauan pencarian hingga kawasan sekitar Gunung Anak Krakatau.

Polri mengerahkan kapal patroli KP Sanjaya-7017 dan memperkuat KN SAR Tetuka milik Basarnas dalam operasi pencarian KM Arupadatu 1 yang dilaporkan hilang kontak. Sebanyak 59 personel Polri diterjunkan, dengan operasi di lapangan dipimpin langsung Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol. Eko Hartanto, S.I.K., M.H.

Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Pol. Trunoyudo Wisnu Andiko mengatakan, seluruh kekuatan yang dikerahkan pada hari ketiga dioptimalkan untuk memperluas penyisiran sekaligus meningkatkan peluang ditemukannya delapan orang yang masih dalam pencarian.

“Memasuki hari ketiga, Polri terus mengoptimalkan pencarian delapan orang yang masih dalam pencarian setelah KM Arupadatu 1 hilang kontak. Sedikitnya 59 personel Polri dikerahkan dan kekuatan di lapangan dipimpin langsung oleh Dirpolairud Polda Banten Kombes Pol. Eko Hartanto yang turut berada di tengah laut bersama anggota menggunakan KP Sanjaya-7017. Personel Polri juga memperkuat KN SAR Tetuka milik Basarnas,” ujar Trunoyudo dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

KP Sanjaya-7017 telah terlibat dalam operasi pencarian sejak hari kedua dan kembali dikerahkan pada hari ketiga. Kapal tersebut menjadi salah satu unsur utama Polri dalam menyisir wilayah perairan yang diduga menjadi lokasi keberadaan KM Arupadatu 1.

Sebelum memulai operasi pada Kamis pagi, seluruh personel KP Sanjaya-7017 mengikuti briefing untuk memastikan kesiapan personel, pembagian tugas, serta sektor pencarian. Sekitar pukul 08.00 WIB, kapal bergerak bersama KN SAR Tetuka menuju perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.

KP Sanjaya-7017 membawa 36 personel yang terdiri atas 27 awak kapal, lima personel Ditpolairud Polda Banten, dua personel Basarnas, serta dua awak media. Sementara KN SAR Tetuka diperkuat tiga personel Ditpolairud Polda Banten untuk mendukung pencarian di sektor yang telah ditentukan.

Pembagian unsur dan sektor operasi dilakukan agar penyisiran berlangsung sistematis serta memaksimalkan cakupan wilayah pencarian. Pada hari ketiga, Basarnas Banten membagi area pencarian menjadi enam sektor dengan total luas mencapai 2.483 nautical mile square (NM²).

KP Sanjaya-7017 melaksanakan pencarian di sektor B yang terbagi dalam delapan sub-sektor, yakni B1 hingga B8. Sementara KN SAR Tetuka melakukan penyisiran di sektor C yang juga terbagi menjadi delapan sub-sektor, C1 hingga C8.

“Pencarian dilakukan secara sistematis berdasarkan sektor dan koordinat dengan mempertimbangkan posisi terakhir kapal, arah angin, arus, gelombang, cuaca dan perkembangan informasi di lapangan. Setiap unsur bekerja sesuai kemampuan masing-masing dan saling memperkuat dalam satu operasi SAR gabungan,” jelas Trunoyudo.

Selama penyisiran, personel mengamati berbagai kemungkinan petunjuk yang dapat membantu menemukan keberadaan KM Arupadatu 1 maupun delapan orang yang masih dicari. Petunjuk tersebut antara lain keberadaan korban, bagian atau benda kapal, perlengkapan keselamatan, hingga tanda-tanda lain yang ditemukan di permukaan maupun sekitar perairan.

Operasi hari ketiga melibatkan lebih dari 280 personel gabungan dari berbagai unsur. Selain Polri dan Basarnas, pencarian turut melibatkan TNI, Bakamla, KSOP, BPBD, unsur kewilayahan, potensi SAR, nelayan, masyarakat, media, serta keluarga korban.

Berbagai sarana juga dikerahkan untuk memperluas jangkauan pencarian, mulai dari kapal SAR dan kapal patroli, rigid inflatable boat (RIB), dukungan udara, drone thermal, sarana medis dan komunikasi, hingga kendaraan pendukung di darat.

“Polri berkolaborasi dengan Basarnas, TNI, Bakamla, KSOP, BPBD dan seluruh potensi SAR lainnya. Lebih dari 280 personel gabungan serta berbagai sarana pencarian dan pendukung dikerahkan pada hari ketiga. Seluruh kekuatan tersebut dioptimalkan untuk memperbesar peluang menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian,” kata Trunoyudo.

Namun, proses pencarian menghadapi sejumlah tantangan. Kondisi cuaca di wilayah operasi dilaporkan berawan tebal hingga berkabut, dengan kecepatan angin sekitar 15 knot. Gelombang di sejumlah wilayah pencarian juga dapat mencapai 2,5 hingga 4 meter.

Selain kondisi cuaca dan gelombang, luas wilayah pencarian serta perubahan arus dan kondisi laut menjadi faktor yang harus diperhitungkan oleh seluruh unsur SAR.

Pencarian juga dilakukan di sekitar kawasan Gunung Anak Krakatau. Oleh karena itu, keselamatan personel menjadi perhatian utama dalam setiap pergerakan unsur SAR. Kondisi aktivitas gunung api dan situasi perairan terus dipantau serta dikoordinasikan dengan instansi yang memiliki kewenangan.

“Kami memahami ada keluarga yang menunggu kepastian. Karena itu, pencarian akan terus dilakukan secara maksimal, terukur dan terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan seluruh personel yang berada di lapangan,” tegas Trunoyudo.

Di tengah operasi SAR yang terus berlangsung, Polri juga melakukan penyelidikan untuk mengetahui rangkaian kejadian sebelum KM Arupadatu 1 hilang kontak.

Subditgakkum Ditpolairud Polda Banten pada Rabu malam telah melakukan pendalaman dengan meminta keterangan sejumlah pihak, termasuk pemilik kapal, pekerja galangan kapal, serta pihak yang berkaitan dengan proses docking dan perbaikan kapal.

Penyelidikan tersebut berjalan paralel dengan operasi SAR. Meski demikian, fokus utama Polri saat ini tetap pada upaya menemukan delapan orang yang masih dalam pencarian.

Polri juga mengimbau masyarakat, nelayan, maupun pihak lain yang memiliki informasi mengenai keberadaan KM Arupadatu 1 atau delapan orang yang dicari untuk segera menyampaikannya kepada Basarnas, Polri, atau aparat berwenang.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pencarian secara mandiri, terutama dengan memasuki wilayah operasi atau perairan sekitar Gunung Anak Krakatau tanpa berkoordinasi dengan petugas SAR.

“Kami mengajak masyarakat untuk membantu melalui koordinasi dengan petugas. Jika memiliki informasi, segera sampaikan kepada Basarnas, Polri atau aparat berwenang. Jangan mengambil tindakan sendiri, karena kondisi laut dan kawasan Gunung Anak Krakatau memiliki risiko yang harus diperhitungkan,” pungkas Trunoyudo.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *