STIKES Bhakti Husada Bengkulu Gandeng MAFINDO, Mahasiswa Dibekali Literasi Digital dan Etika AI

Daerah8 Dilihat

Bengkulu – Menghadapi derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI), STIKES Bhakti Husada Bengkulu menggandeng Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Wilayah Bengkulu untuk memperkuat kemampuan mahasiswa dalam memilah informasi sekaligus menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) antara STIKES Bhakti Husada Bengkulu dan MAFINDO. Kerja sama ini dilaksanakan dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) STIKES Bhakti Husada Bengkulu Tahun 2026.

Selain memperkuat literasi digital dan kemampuan berpikir kritis, kerja sama tersebut diarahkan untuk membangun ketahanan civitas akademika dalam menghadapi misinformasi, disinformasi, hoaks, serta berbagai persoalan etika di ruang digital.

Dalam kegiatan PKKMB itu, MAFINDO juga memberikan edukasi kepada mahasiswa melalui materi bertema “Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa”.

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pimpinan STIKES Bhakti Husada Bengkulu, yakni Wakil Ketua I STIKES Bhakti Husada Bengkulu Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes, Wakil Ketua II Susi Eryani, MH, dan Wakil Ketua III Miki Kurnia Fitrizah, SKM, MKM.

Dari MAFINDO hadir Dewan Pengawas MAFINDO Pusat Dr. Gushevinalti, M.Si, Relawan MAFINDO Bengkulu Mika Oktarina dan Rafinita Aditya, serta pemateri kegiatan Iyud Dwi Mursito.

Wakil Ketua I STIKES Bhakti Husada Bengkulu, Veby Fransisca Rozi, SKM, M.Kes, mengatakan kerja sama dengan MAFINDO merupakan bentuk nyata komitmen institusinya dalam memperluas jejaring kemitraan strategis, khususnya dalam meningkatkan literasi digital dan kecakapan berpikir kritis mahasiswa.

“Kerja sama ini merupakan wujud nyata komitmen STIKES Bhakti Husada Bengkulu dalam memperluas jejaring kemitraan strategis, khususnya dalam upaya bersama meningkatkan literasi digital, kecakapan berpikir kritis, serta ketahanan masyarakat—termasuk civitas akademika—terhadap arus informasi yang keliru seperti misinformasi, disinformasi, dan ujaran kebencian di ruang digital,” ujar Veby.

Menurut Veby, sebagai institusi pendidikan tinggi kesehatan, kemampuan memilah informasi memiliki hubungan erat dengan upaya menjaga kesehatan masyarakat. Terlebih, informasi keliru mengenai kesehatan dapat menimbulkan dampak yang serius terhadap masyarakat.

“Isu literasi informasi bukan hanya persoalan teknologi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat itu sendiri, terutama dalam menghadapi maraknya hoaks di bidang kesehatan yang dapat berdampak langsung pada keselamatan dan kesejahteraan masyarakat,” jelasnya.

Ia menambahkan, kolaborasi dengan MAFINDO juga menjadi bagian dari upaya mendukung pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi, baik di bidang pendidikan, penelitian maupun pengabdian kepada masyarakat.

“Kolaborasi dengan MAFINDO yang memiliki kapasitas, jejaring, dan pengalaman panjang dalam gerakan anti-hoaks di Indonesia menjadi sangat relevan dan strategis bagi pengembangan Tridarma Perguruan Tinggi kami,” ungkap Veby.

Mahasiswa Didorong Bijak Manfaatkan AI

Ketua DPW MAFINDO Bengkulu, Fonika Thoyib, menekankan bahwa mahasiswa perlu memahami perkembangan AI agar mampu memanfaatkannya secara tepat, bijak dan bertanggung jawab.

Menurut Fonika, AI dapat memberikan kemudahan dalam berbagai aktivitas akademik, mulai dari membantu proses pembelajaran, menyelesaikan tugas, mencari informasi hingga mendukung kegiatan akademik lainnya.

Namun, penggunaan AI tidak boleh membuat mahasiswa mengabaikan kemampuan berpikir kritis. Mahasiswa tetap dituntut mampu melakukan analisis dengan menggabungkan teori yang dipelajari dengan kondisi nyata di lapangan.

“Mahasiswa di era sekarang harus memahami AI dan menggunakannya dengan bijak sesuai kebutuhan dalam proses perkuliahan maupun membuat tugas. Tetapi harus diingat bahwa AI hanya alat bantu. Kemampuan analisis dan pemikiran rasional dengan memadukan teori serta realitas lapangan adalah keharusan sebagai insan akademik,” ujar Fonika.

Sementara itu, Pemateri MAFINDO Bengkulu, Iyud Dwi Mursito, menyampaikan materi “Etika Penggunaan Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa”. Materi tersebut menekankan pentingnya penggunaan AI secara cerdas, kritis dan bertanggung jawab.

Dalam pemaparannya, mahasiswa diperkenalkan pada berbagai manfaat AI dalam mendukung proses pembelajaran. Teknologi tersebut dapat digunakan untuk membantu mencari informasi, memahami konsep yang sulit, menemukan ide kreatif, mendukung penelitian hingga membantu proses analisis data.

Di sisi lain, mahasiswa juga diajak memahami sejumlah risiko penggunaan AI, antara lain ketergantungan terhadap teknologi, munculnya informasi palsu, plagiarisme serta potensi menurunnya kemampuan berpikir kritis apabila AI digunakan tanpa kontrol dan verifikasi.

Melalui penandatanganan MoU dan edukasi tersebut, STIKES Bhakti Husada Bengkulu bersama MAFINDO Bengkulu berharap kolaborasi dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Kerja sama itu diharapkan melahirkan mahasiswa yang tidak hanya memiliki kecakapan digital, tetapi juga mampu memverifikasi dan memilah informasi secara kritis serta memanfaatkan teknologi secara etis dalam mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan pelayanan kepada masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *