UMKM Bengkulu Catat Transaksi Rp1,24 Miliar di KKI 2026, Produk Lokal Tembus Pasar Ekspor

Bank Indonesia14 Dilihat

Bengkulu — Partisipasi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Provinsi Bengkulu dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia (KKI) 2026 mencatat hasil positif. Dari 38 UMKM yang berpartisipasi, terdiri atas 32 UMKM secara daring dan enam UMKM secara luring, total penjualan yang berhasil dihimpun mencapai sekitar Rp1,24 miliar.

KKI 2026 berlangsung pada 20–23 Agustus 2026 di Hall A dan B Jakarta International Convention Center (JICC), Jakarta. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari komitmen Bank Indonesia dalam mendorong pengembangan UMKM untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Secara nasional, KKI 2026 diikuti 560 UMKM secara luring dan 1.860 UMKM melalui pameran daring pada platform Karya Kreatif Indonesia. Beragam produk unggulan ditampilkan, mulai dari wastra, ready to wear, makanan dan minuman, home decor, hingga karya kreatif generasi muda.

Penyelenggaraan KKI 2026 juga melibatkan lebih dari 27 kementerian, 24 asosiasi, praktisi, akademisi, influencer, serta perbankan. Hingga penutupan, tercatat penjualan sebesar Rp144,2 miliar, business matching senilai Rp169,9 miliar yang mempertemukan 192 UMKM dengan mitra dari 16 negara, serta pembiayaan perbankan kepada UMKM sebesar Rp285 miliar.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Aida S. Budiman, saat menutup KKI 2026 di JICC, Jakarta, Sabtu (23/8), mengatakan capaian tersebut patut diapresiasi di tengah kondisi global yang berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Menurutnya, KKI tidak hanya menjadi ruang promosi dan transaksi, tetapi juga bagian dari ekosistem pengembangan UMKM untuk meningkatkan kapasitas dan inovasi, memperluas akses pasar dan pembiayaan, serta mendorong UMKM naik kelas.

“Setiap tahun, dengan penuh rasa syukur kami adakan KKI agar UMKM Indonesia bisa terus tumbuh, tangguh, dan berdaya saing. Tapi, UMKM perlu mempunyai ekosistem yang menjadi tujuan berkelanjutan agar tumbuh, tangguh, dan berdaya saingnya UMKM Indonesia terus berlangsung,” ujar Aida.

Ia menambahkan, tantangan pembiayaan UMKM tidak hanya menyangkut ketersediaan dana, tetapi juga kesiapan usaha, persepsi risiko, serta kemampuan mempertemukan UMKM dengan lembaga keuangan.

Karena itu, Bank Indonesia memperkuat pengembangan UMKM dari sisi hulu hingga hilir, antara lain melalui peningkatan kapasitas usaha, penguatan rekam jejak keuangan, peningkatan visibilitas UMKM, serta perluasan akses pasar.

“Bank Indonesia berperan sebagai katalis dalam memperkuat pembiayaan UMKM dari sisi supply dan demand,” kata Aida.

Dari sisi supply, Bank Indonesia mendorong pembiayaan UMKM melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) serta Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM). Sementara dari sisi demand, digitalisasi pembayaran melalui QRIS turut didorong untuk membangun rekam jejak usaha UMKM.

UMKM Bengkulu Tembus Pasar Afrika Selatan

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, mengatakan KPw BI Provinsi Bengkulu bersama Dekranasda dan Dharma Wanita Provinsi Bengkulu terus mendorong UMKM daerah agar mampu memperluas pasar melalui KKI 2026.

Dari partisipasi tersebut, UMKM Bengkulu mencatat penjualan daring sebesar Rp1,195 miliar, sedangkan penjualan luring mencapai Rp49,20 juta.

Tak hanya penjualan, sejumlah UMKM Bengkulu juga berhasil memperoleh peluang kerja sama melalui kegiatan business matching, termasuk untuk pasar ekspor.

Salah satunya UMKM Kopi Bukit Barisan yang berhasil menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan Indonesia Specialty Coffee untuk pemesanan 500 kilogram green bean kopi Robusta Bengkulu, dengan nilai kontrak awal sebesar Rp35,5 juta.

Selain komoditas kopi, peluang ekspor juga berhasil diperoleh UMKM makanan dan minuman asal Bengkulu. CV Jaya Rasa mendapatkan kontrak sebanyak 500 pcs makanan kecil Perut Punai senilai USD1.500 untuk pasar Afrika Selatan melalui kegiatan business matching.

Wahyu menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa produk UMKM Bengkulu memiliki peluang yang semakin besar untuk menembus pasar internasional.

“Capaian melalui fasilitasi temu bisnis (Business Matching) Ekspor pada KKI 2026 secara konkret dalam perluasan akses pasar ekspor UMKM Bengkulu cukup menjanjikan. Produk UMKM Bengkulu dapat diterima pasar luar negeri. Ini membuktikan bahwa UMKM Bengkulu layak bersaing dan bersanding dengan UMKM lain di Indonesia untuk mendunia,” ujar Wahyu Yuwana Hidayat.

Menurut Wahyu, perluasan akses pasar menjadi salah satu kunci agar UMKM tidak hanya bertahan, tetapi mampu berkembang dan naik kelas. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, perbankan, korporasi, serta pelaku usaha perlu terus diperkuat.

KPw BI Provinsi Bengkulu pun mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga optimisme dan memperkuat kolaborasi dalam mendukung UMKM daerah agar semakin bangkit, tangguh, berdaya saing, dan cepat naik kelas.

Sinergi berkelanjutan antara korporasi, perbankan, dan pelaku usaha di daerah diyakini mampu membangun ekosistem yang memberikan ruang lebih besar bagi usaha kecil untuk tumbuh sekaligus menjadi penggerak ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *