Bengkulu – Persiapan menghadapi Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII/2028 terus digenjot Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Bengkulu. Tak ingin persiapan dilakukan secara mendadak, KONI Bengkulu mulai memperketat pemantauan program latihan atlet sebagai bagian dari upaya mengejar target masuk 25 besar nasional.
Melalui Bidang Pembinaan Prestasi (Binpres), KONI Bengkulu membentuk tim monitoring dan evaluasi (monev) yang secara berkala turun langsung ke venue latihan berbagai cabang olahraga (cabor). Tim ini bertugas memastikan program latihan berjalan sesuai rencana sekaligus mengidentifikasi kendala yang dihadapi atlet dan pelatih.
Wakil Ketua Umum I Bidang Prestasi KONI Provinsi Bengkulu, Aswandi, mengatakan monitoring dilakukan dengan mendatangi langsung tempat latihan dan berdialog dengan atlet serta pelatih.
“Seperti agenda tim monev sore ini, kita melakukan pemantauan langsung ke venue cabor. Kita tatap muka bersama atlet dan pelatih, koordinasi soal program latihan. Ini agar dapat diketahui sejauh mana kondisi atlet,” kata Aswandi, Kamis (27/8/2026).
Dalam monitoring tersebut, tim monev mengunjungi dua venue, yakni cabang olahraga atletik di Stadion Semarak Bengkulu dan cabor Kempo. Dari pemantauan di lapangan, ditemukan sejumlah kendala yang berpotensi mengganggu efektivitas latihan atlet.
Salah satunya terjadi pada cabor atletik. Atlet dinilai belum mendapatkan suasana latihan yang optimal karena penggunaan lintasan utama stadion juga dimanfaatkan untuk kegiatan bimbingan belajar (bimbel) setiap sore.
“Venue di cabor atletik ini kami lihat langsung, memang kurang nyaman. Lintasan utama untuk latihan dipakai untuk program bimbel dan ini berjalan setiap sore. Jadi program latihan atlet kita jelas kurang nyaman,” ungkap Aswandi.
Menurutnya, persoalan tersebut akan segera dikoordinasikan dengan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Bengkulu selaku pihak yang bertanggung jawab terhadap fasilitas tersebut. Stadion Semarak dinilai menjadi salah satu venue penting karena memiliki fasilitas lintasan atletik berstandar nasional.
“Kita akan koordinasikan dengan pihak Dispora Provinsi Bengkulu sebagai penanggung jawab. Karena di stadion inilah venue atletik standar nasional. Jadi persoalan ini segera kita koordinasikan,” ujarnya.
Kondisi serupa juga disampaikan pelatih atletik, Fahmi. Ia mengatakan kepadatan aktivitas di Stadion Semarak menjadi salah satu kendala dalam pelaksanaan program latihan atlet.
“Tak jarang atlet kita menemui masalah saat melakoni latihan. Kadang bersinggungan dengan anak bimbel. Ini karena padatnya pemakaian venue. Semoga secepatnya ada solusi terbaik dari pihak KONI,” kata Fahmi.
Sementara itu, Kabid Binpres KONI Provinsi Bengkulu, Hopalara, menegaskan persoalan sarana dan prasarana menjadi perhatian serius dalam persiapan menuju PON XXII/2028. Menurutnya, kualitas fasilitas latihan turut menentukan keberhasilan pembinaan dan pencapaian prestasi atlet.

KONI Bengkulu sendiri telah memetakan sekitar 15 cabor potensial dan unggulan yang diproyeksikan mampu menyumbangkan medali emas pada PON XXII/2028 yang akan digelar di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Persiapan dilakukan sejak sekarang karena tahapan prakualifikasi PON akan berlangsung pada 2027, sebelum pelaksanaan PON pada 2028.
“Intinya Bengkulu harus bangkit di PON NTB-NTT nanti. Target prestasi terbaik dan tembus 25 besar sudah dicanangkan. Jadi kita minta 38 atlet binaan KONI yang dipersiapkan ke PON nanti untuk disiplin menjalani latihan, agar target enam emas di PON bisa terwujud,” jelas Hopalara yang juga Ketua Tim Monev KONI Bengkulu.
Dengan monitoring secara berkala, KONI Bengkulu berharap setiap persoalan yang muncul dalam proses pembinaan dapat segera diatasi, sehingga persiapan atlet menuju PON XXII/2028 berjalan lebih terarah dan target prestasi yang telah ditetapkan dapat direalisasikan.