Singkap Selimut dan Bangunlah

Daerah19 Dilihat

Bengkulu, 25 Agustus 2026 — Luar biasa. Ribuan kaum muslimin dan muslimat, pemuda dan pemudi, memadati Masjid Raya Baitul Izzah Bengkulu dalam acara gabungan Gerakan Subuh Berjamaah (GSB), Majelis Cinta Nabi, dan Ta’lim Maulid Akbar, Selasa, 12 Rabiul Awwal 1448 H/25 Agustus 2026.

Sejak menjelang waktu Subuh, jamaah telah berdatangan memenuhi masjid. Suasana berlangsung khusyuk, hidmat, dan penuh kecintaan kepada Allah dan Rasulullah ﷺ.

Acara diawali dengan tilawah Al-Qur’an Surat Al-Muzzammil yang dibacakan oleh Mimi, murid kelas V SDIT Rabbani. Lantunan ayat-ayat suci yang dibawakannya dengan indah dan penuh penghayatan menambah kekhusyukan jamaah.

Suasana kemudian semakin menarik dengan penampilan Da’i Shaghir, Qiando Ghifari, santri kelas IX PPIIT Rabbani, yang menyampaikan pesan tentang pentingnya ilmu. Penyampaiannya yang lugas, penuh semangat dan memukau mendapat perhatian besar dari jamaah.

Selanjutnya, Prof. Dr. H. Hery Noor Aly, Ketua DKM Masjid Raya Baitul Izzah, menyampaikan taushiyah yang begitu dalam tentang kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.

Taushiyah tersebut seakan membawa jamaah menembus ruang dan waktu. Kerinduan kepada Rasulullah ﷺ terasa membuncah. Jamaah diajak membayangkan kembali kehidupan Nabi ﷺ, perjuangan, kesabaran, dan akhlak beliau dalam seluruh aspek kehidupan yang indah, serta menjagin teladan sepanjang masa.

Puncak acara diisi dengan Ta’lim Surat Al-Muzzammil oleh KH. Muhammad Syamlan, Khadim Ma’had Rabbani Bengkulu.

Dalam kajiannya, KH. Muhammad Syamlan mengajak jamaah melakukan introspeksi mendalam terhadap posisi seorang Muslim ketika kebenaran sedang diperjuangkan.

“Andaikan kita hidup di zaman Nabi, kita ini termasuk yang mencela Nabi atau yang membela Nabi?”

Pertanyaan tersebut mengguncang kesadaran jamaah.

Kiyai Syamlan mengingatkan bahwa pada masa Rasulullah ﷺ, orang-orang yang membela Nabi tidak selalu menjadi kelompok yang ramai. Justru suara yang mendustakan dan mencela Nabi begitu kuat dan itulah yang viral. Rasulullah ﷺ dituduh sebagai dukun, tukang sihir dan orang gila.

Beratnya tekanan dakwah membuat Rasulullah ﷺ pulang lalu tidur berselimut. Namun Allah tidak membiarkan beliau larut dalam kesedihan.

Allah kemudian memanggil beliau:

يَا أَيُّهَا الْمُزَّمِّلُ ۝ قُمِ اللَّيْلَ إِلَّا قَلِيلًا
“Wahai orang yang berselimut. Bangunlah untuk melaksanakan salat malam, kecuali sebagian kecil.”
(QS. Al-Muzzammil: 1–2)

Dari sinilah lahir pesan besar yang menjadi tema acara: “Singkap Selimut dan Bangunlah.”

Selimut bukan hanya kain yang menutupi tubuh. Dalam konteks kehidupan umat, selimut dapat menjadi simbol kenyamanan, kemalasan, ketakutan, keterlenaan, dan sikap memilih diam ketika kebenaran membutuhkan pembelaan.

Karena itu, umat Islam dipanggil untuk bangun: bangun untuk Allah, bangun untuk ilmu, bangun untuk dakwah, bangun untuk membela kebenaran, dan bangun untuk membangun umat.

Acara yang berlangsung penuh kekhusyukan tersebut menjadi momentum untuk kembali menyalakan cinta kepada Rasulullah ﷺ, memperkuat iman, meningkatkan kecintaan kepada Al-Qur’an, dan membangkitkan semangat generasi muda Islam.

“Ayo, bangun untuk Allah. Bangun untuk umat. Bangun untuk Bangsa dan Negara. Bangun untuk Dunia.”

Jangan berkecil hati dan jangan pernah berhenti saat ada yang menghalangi, menghina dan mencaci.

Shubuh yang membahana ini, dengan ribuan jamaah yang hadir, menunjukkan umat ini memilki kekuatan yang hebat. InsyaAllah ini menjadi tanda kebangkitan ruhiyah, ilmu, dakwah dan amal bagi umat Islam di Bengkulu, yang terus melaju ke tingkat Nasional dan Internasional. Apalagi memang di Bengkulu ada Sekolah dan Pondok Pesantren bertingkat Internasional, yaitu Ma’had Rabbani.

Jadi, singkap selimut. Bangunlah.
Bangun untuk Allah.
Bangun untuk umat. Bangun untuk Bangsa dan Negara. Bangun untuk Dunia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *