Mahasiswa Bengkulu Belum Bergerak di Tengah Gelombang Aksi Nasional, Penggiat HAM Soroti Peran Intelektual Kampus
Bengkulu – Gelombang aksi demonstrasi mahasiswa dan elemen masyarakat yang memprotes sejumlah kebijakan pemerintahan Presiden dalam sepekan terakhir terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Namun, kondisi berbeda terlihat di Bengkulu yang hingga kini belum diwarnai aksi serupa dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) maupun organisasi kepemudaan.
Sejumlah isu nasional yang menjadi sorotan dalam aksi di berbagai daerah antara lain pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), meningkatnya harga kebutuhan pokok, kondisi ekonomi yang dinilai belum stabil, hingga sejumlah kebijakan pemerintah seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG), pembentukan Koperasi Merah Putih, kebijakan ekspor crude palm oil (CPO) satu pintu, serta pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU) Polri yang dinilai sebagian kalangan berpotensi berdampak terhadap ruang sipil.
Menanggapi belum adanya respons gerakan mahasiswa di Bengkulu, Penggiat HAM dan Demokrasi, Oky Alex S, SH, menilai masyarakat masih menaruh harapan kepada mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang mampu menyuarakan keresahan publik.
“Masyarakat punya harapan kepada mahasiswa untuk menyuarakan kegelisahan yang terjadi. Soal bagaimana mahasiswa menjalankan perannya sebagai intelektual, tentu kembali kepada mahasiswa itu sendiri. Tetapi mahasiswa harus tetap kritis melihat persoalan yang sedang terjadi,” ujar Oky.
Menurutnya, mahasiswa memiliki kemampuan analisis dan cara pandang yang berbeda dalam membaca kondisi bangsa sehingga keberadaan mereka tetap penting dalam menjaga kehidupan demokrasi. Ia menilai berbagai aksi yang terjadi di sejumlah daerah merupakan bentuk respons terhadap situasi ekonomi dan kebijakan yang sedang berkembang di tengah masyarakat.
“Mahasiswa sebenarnya memiliki analisis sendiri atas kondisi bangsa hari ini. Ketika muncul aksi di berbagai daerah, itu merupakan bentuk respons terhadap kondisi ekonomi dan kebijakan yang dinilai perlu dievaluasi,” katanya.
Oky juga mencontohkan sejumlah kampus besar di Indonesia yang mulai menyuarakan evaluasi terhadap berbagai program pemerintah sebagai bagian dari fungsi kontrol sosial.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa respons mahasiswa dibutuhkan terhadap setiap kebijakan maupun fenomena sosial yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat.
“Mahasiswa adalah agen perubahan dan menjadi corong aspirasi masyarakat. Di akar rumput sebenarnya banyak suara yang muncul, tetapi sering hanya berhenti di warung kopi, di sawah, atau ruang-ruang informal lainnya. Keresahan itu seharusnya bisa ditangkap dan disuarakan lebih kuat kepada pemerintah,” jelasnya.
Ia berharap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat tidak berhenti menjadi percakapan sehari-hari tanpa adanya ruang penyampaian yang lebih luas.
“Jangan sampai isu dan persoalan masyarakat mandek dan tidak tersampaikan. Peran mahasiswa sebagai kelompok terpelajar dan intelektual tetap dibutuhkan untuk menjaga ruang demokrasi dan menyampaikan aspirasi publik,” tutupnya.




