Bengkulu — Ketua Umum BPD HIPMI Bengkulu, Yosia Yodan, mendorong terbukanya akses pasar internasional bagi produk unggulan daerah, khususnya kopi Bengkulu. Penjajakan peluang tersebut dilakukan melalui kunjungan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Shanghai, China.
Yosia Yodan bersama Sandiaga Uno dan Anggawira bertemu langsung dengan Konsul Jenderal RI di Shanghai, Berlianto Situngkir, Kamis (24/9/2026). Pertemuan tersebut membahas berbagai peluang kolaborasi sekaligus upaya menghubungkan potensi produk Indonesia dengan pasar internasional.
Menurut Yosia, produk daerah memiliki peluang besar untuk berkembang apabila didukung kualitas, pengelolaan usaha, serta akses terhadap jaringan pasar yang tepat.
“Indonesia memiliki banyak produk dan kreativitas yang bisa dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut diterjemahkan menjadi produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar, memiliki kualitas konsisten, dan dikelola secara profesional,” ujar Yosia.
Ia menilai hubungan dengan perwakilan Indonesia di luar negeri dapat menjadi salah satu pintu bagi pelaku usaha daerah untuk mendapatkan informasi pasar sekaligus membangun komunikasi dengan calon mitra bisnis.
Dalam konteks Bengkulu, kopi menjadi salah satu komoditas yang dinilai memiliki peluang untuk dikembangkan ke pasar China. Penjajakan dapat diarahkan dengan mempertemukan produsen kopi Bengkulu dengan calon importir, distributor, maupun perusahaan penyangraian kopi di China.
Peluang perdagangan kopi Indonesia di China sebelumnya juga terlihat dalam kegiatan business matching yang difasilitasi Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Shanghai pada 18 Februari 2025.
Kementerian Perdagangan mencatat kegiatan tersebut menghasilkan potensi transaksi kopi senilai US$4,5 juta antara perusahaan Indonesia dan pembeli dari Shanghai.
Yosia menegaskan, angka tersebut merupakan potensi transaksi dari kegiatan business matching tersebut dan bukan kesepakatan ekspor kopi Bengkulu yang dihasilkan dari kunjungan ke KJRI Shanghai.
“Ini menunjukkan ada jalur penjajakan bisnis yang bisa dipelajari oleh pelaku usaha Bengkulu. Langkah awalnya bisa melalui pemetaan calon pembeli, menyiapkan profil produk, mengirim sampel, kemudian memastikan kualitas dan harga sesuai kebutuhan pasar,” katanya.
Kualitas Jadi Kunci
Yosia mengatakan, peluang masuk ke pasar China harus dibarengi dengan kesiapan dari sisi produksi. Konsistensi kualitas biji kopi, penanganan pascapanen, penyimpanan, ketertelusuran asal produk, serta kepastian pasokan menjadi sejumlah faktor penting dalam membangun kepercayaan calon pembeli.
Produk yang ditawarkan juga dapat disesuaikan dengan kebutuhan pasar, baik berupa biji kopi hijau maupun produk kopi olahan.
Pemilihan produk tersebut perlu mempertimbangkan biaya pengolahan, pengiriman, daya simpan, serta nilai tambah yang dapat dipertahankan di daerah asal.
Menurut Yosia, identitas Bengkulu juga dapat menjadi bagian dari strategi pemasaran kopi. Informasi mengenai asal kebun, proses pengolahan, karakter kopi, hingga cerita petani dapat memperkuat nilai produk ketika diperkenalkan ke konsumen internasional.
Peluang bagi Pengusaha Muda
Selain membuka pasar bagi komoditas daerah, Yosia melihat koneksi internasional juga dapat memberikan ruang bagi pengusaha muda Bengkulu untuk berkembang.
Generasi muda dapat mengambil peran dalam pengembangan merek, pengolahan produk, pemasaran digital, desain kemasan, hingga komunikasi dengan calon pembeli internasional.
“Kita ingin produk yang lahir dari daerah tidak hanya dikenal di dalam negeri, tetapi juga memiliki kesempatan untuk masuk ke pasar global. Anak-anak muda harus berani melihat peluang tersebut,” ujar Yosia.
Ia menilai kolaborasi antara pengusaha muda, petani, pengolah, distributor, dan pelaku usaha yang telah berpengalaman menjadi penting untuk menghubungkan kekuatan produksi daerah dengan kebutuhan pasar internasional.
Jika pasar ekspor dapat dikembangkan secara berkelanjutan, manfaat ekonomi diharapkan dapat dirasakan lebih luas, mulai dari petani, pengolah kopi, tenaga kerja, penyedia kemasan, hingga pelaku usaha pendukung lainnya.
Pertemuan di KJRI Shanghai tersebut menjadi bagian dari penjajakan yang dapat ditindaklanjuti melalui komunikasi dan pemetaan peluang bisnis. Bagi kopi Bengkulu, langkah tersebut membuka ruang untuk memperkenalkan produk daerah kepada calon mitra di pasar China sekaligus mencari peluang peningkatan nilai tambah komoditas lokal.









