Yosia Yodan Kunjungi Kantor Pusat CHAGEE di Shanghai, Pelajari Strategi Bisnis hingga Ekspansi Global

SHANGHAI — Pengusaha muda Yosia Yodan mengunjungi kantor pusat CHAGEE di Shanghai, China, bersama Sandiaga Uno dan Anggawira dalam rangka perjalanan bisnis. Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk melihat secara langsung perkembangan bisnis merek minuman teh asal China sekaligus mempelajari strategi yang dapat diterapkan dalam pengembangan usaha di Indonesia.

Menurut Yosia Yodan, CHAGEE memberikan gambaran menarik tentang bagaimana sebuah produk yang berakar pada tradisi dapat dikembangkan menjadi merek dengan jangkauan internasional.

Budaya minum teh menjadi bagian dari identitas CHAGEE, sementara inovasi produk dan pendekatan modern digunakan untuk menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen masa kini.

“CHAGEE memberikan pembelajaran bahwa produk yang berangkat dari tradisi tetap bisa berkembang menjadi bisnis berskala besar. Identitas budaya justru dapat menjadi kekuatan sebuah merek ketika dipadukan dengan inovasi dan kemampuan membaca kebutuhan pasar,” ujar Yosia Yodan dari Shanghai, Rabu (23/9/2026).

Menurut Yosia, pengalaman tersebut relevan bagi pengusaha Indonesia, khususnya dalam mengembangkan produk-produk yang memiliki kekuatan lokal.

Kekhasan bahan baku, cita rasa, hingga cerita di balik sebuah produk dapat menjadi identitas yang membedakan suatu usaha. Sementara itu, teknologi dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan pelayanan, efisiensi, serta memperluas jangkauan pasar.

Berawal dari Yunnan dan Berkembang ke Pasar Global

Menurut situs resmi perusahaan, gerai pertama CHAGEE dibuka pada 17 November 2017 di Yunnan, China. Merek tersebut mengambil inspirasi dari jalur perdagangan teh dan kuda kuno atau Ancient Tea and Horse Caravan Road, yang menjadi bagian dari sejarah perdagangan sekaligus pertukaran budaya.

CHAGEE kemudian mengembangkan penyajian teh tradisional dengan pendekatan yang disesuaikan dengan selera konsumen modern.

Perusahaan yang didirikan oleh Junjie Zhang tersebut mengembangkan minuman berbahan dasar teh dan susu sebagai salah satu bagian penting dari penawaran produknya.

Pada 17 April 2025, saham CHAGEE mulai diperdagangkan di Nasdaq dengan kode CHA. Langkah tersebut menandai masuknya perusahaan ke pasar modal Amerika Serikat.

Pertumbuhan jaringan CHAGEE juga terus berkembang. Berdasarkan laporan kinerja kuartal II 2026 yang diterbitkan pada 28 Agustus 2026, jaringan CHAGEE mencapai 7.639 gerai per 30 Juni 2026, meningkat 8,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Jumlah tersebut terdiri atas 6.756 gerai waralaba dan 883 gerai milik perusahaan.

Bagi Yosia, perkembangan tersebut memberikan pembelajaran bahwa ekspansi bisnis tidak hanya membutuhkan produk yang kuat, tetapi juga sistem operasional yang mampu menjaga kualitas ketika skala usaha semakin besar.

Identitas, Konsistensi, dan Teknologi

Yosia menilai salah satu pembelajaran penting dari perjalanan CHAGEE adalah bagaimana identitas produk dipertahankan ketika bisnis berkembang.

Menurutnya, pengusaha Indonesia dapat menerapkan prinsip serupa dengan menggali potensi yang ada di daerah masing-masing.

“Pengusaha harus memahami apa yang membuat produknya khas, siapa konsumennya, dan bagaimana mempertahankan keunikan itu ketika bisnis berkembang. Jangan sampai ketika usaha semakin besar, identitas yang menjadi kekuatan awal justru hilang,” kata Yosia.

Ia juga menekankan pentingnya konsistensi. Ketika usaha mulai membuka cabang atau bekerja sama dengan mitra, kualitas produk dan pelayanan harus tetap dijaga melalui standar operasional yang jelas.

Pertumbuhan jumlah gerai, lanjut Yosia, juga harus diikuti kesiapan dari sisi pasokan, pelatihan karyawan, pengawasan kualitas, hingga pencatatan keuangan dan operasional.

Pemanfaatan teknologi pun tidak harus selalu dimulai dari hal yang kompleks.

“Untuk usaha yang sedang berkembang, teknologi bisa dimulai dari hal-hal sederhana dan konkret, seperti pencatatan penjualan secara digital, pengelolaan stok, melihat produk yang paling banyak dibeli, sampai memahami masukan pelanggan. Data tersebut bisa membantu pengusaha mengambil keputusan dengan lebih terukur,” ujarnya.

Ekspansi Harus Diikuti Kesehatan Bisnis

Meski memiliki jaringan yang besar, Yosia melihat bahwa pertumbuhan jumlah gerai bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah bisnis.

Ia menyoroti laporan CHAGEE yang menunjukkan same-store GMV turun 16,1 persen secara tahunan pada kuartal II 2026. Indikator tersebut menggambarkan perubahan nilai transaksi pada kelompok gerai yang memenuhi kriteria pembanding perusahaan.

Menurut Yosia, kondisi tersebut memberikan pelajaran bahwa ekspansi harus tetap diikuti perhatian terhadap kinerja masing-masing gerai.

“Besarnya jumlah gerai tentu menunjukkan skala bisnis, tetapi pengusaha juga harus melihat kesehatan usaha di setiap gerai. Arus kas, biaya operasional, keuntungan per produk, dan pembelian berulang merupakan hal yang penting sebelum memutuskan untuk melakukan ekspansi berikutnya,” jelasnya.

Ia menilai pengusaha muda perlu membangun bisnis secara bertahap dengan memahami kondisi keuangan dan operasional sebelum mengejar pertumbuhan jumlah cabang.

Yosia Yodan Dorong Anak Muda Bengkulu Berani Bangun Usaha

Pengalaman melihat perkembangan perusahaan berskala internasional juga menjadi bahan refleksi Yosia untuk mendorong generasi muda Bengkulu agar lebih percaya diri mengembangkan potensi daerah.

Menurutnya, daerah bukan menjadi batas bagi seseorang untuk membangun usaha yang dapat menjangkau pasar lebih luas.

“Harapan saya, anak-anak muda Bengkulu semakin percaya diri untuk membangun usaha. Kita bisa mulai dari potensi yang dekat dengan kehidupan kita, lalu mengembangkannya dengan kualitas yang baik, pengelolaan yang tertib, dan kemauan untuk terus belajar. Berasal dari daerah bukan penghalang untuk memiliki cita-cita besar,” ujar Yosia.

Ia juga mengajak anak muda Bengkulu untuk terbuka terhadap pengetahuan baru dan belajar dari berbagai model bisnis yang telah berkembang.

“Putra-putri di Bengkulu, beranilah memulai dan terbukalah terhadap pengetahuan baru. Pelajari bagaimana sebuah produk dibangun, bagaimana pelanggan dilayani, dan bagaimana kepercayaan dijaga. Saya berharap semakin banyak anak muda Bengkulu mampu membangun merek yang membanggakan daerah sekaligus membuka lapangan kerja,” katanya.

Selain kemampuan membangun produk, Yosia menilai jejaring dan kolaborasi menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang pengusaha.

Akses terhadap mentor, mitra usaha, pemasok, serta pengetahuan mengenai operasional dapat membantu pelaku usaha menguji gagasan dan memperbaiki berbagai kelemahan sejak tahap awal.

“Anak muda Indonesia memiliki peluang besar untuk mengembangkan produk daerah menjadi usaha yang kompetitif. Peluang itu perlu ditopang oleh keterampilan, jejaring, dan tata kelola yang baik. Harapannya, semakin banyak pengusaha muda yang mampu tumbuh bersama pemasok lokal, menciptakan pekerjaan, dan memberikan manfaat bagi daerahnya,” tutur Yosia.

Kunjungan ke kantor pusat CHAGEE di Shanghai tersebut menjadi bagian dari pengalaman Yosia dalam melihat secara langsung bagaimana sebuah merek mengembangkan identitas, inovasi, sistem operasional, dan jaringan bisnis hingga mencapai skala internasional.

Bagi Yosia, pembelajaran tersebut dapat menjadi inspirasi bagi pengusaha muda Indonesia untuk tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga membangun usaha yang memiliki identitas kuat, dikelola secara profesional, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan daerah asalnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *