Dituding Anggaran “Menguap”, KONI Bengkulu Jawab dengan Medali

Daerah65 Dilihat

Bengkulu – Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Provinsi Bengkulu menjawab isu soal anggaran dengan prestasi. Bukan “menguap”, anggaran tersebut diwujudkan dalam program pembinaan atlet jangka panjang yang kini menjadi salah satu program unggulan KONI Bengkulu.

Di bawah kepemimpinan Teuku Zulkarnain, KONI Provinsi Bengkulu mulai menunjukkan geliat baru. Prestasi demi prestasi diraih atlet Bengkulu dalam berbagai kejuaraan. Mulai dari medali perunggu, perak hingga emas berhasil dibawa pulang, mengharumkan nama Bengkulu, tanah kelahiran Ibu Negara pertama Republik Indonesia, Fatmawati Soekarno.

Pada awal Juli 2026, KONI Bengkulu mengirimkan atlet binaannya dari Cabang Olahraga (Cabor) Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina) mengikuti Kejuaraan VIP Boxing di Lampung. Hasilnya, tiga medali emas berhasil diraih.

Cabor lainnya juga turut menyumbangkan prestasi. Taekwondo berhasil meraih medali, sementara angkat berat memboyong tiga medali, masing-masing satu perak dan dua perunggu.

“Alhamdulillah Cabor Pertina dapat tiga medali emas di kejuaraan di Lampung. Cabor lain juga dapat medali. Dari taekwondo Alhamdulillah dapat medali juga. Dari angkat berat satu perak dan dua perunggu. Kemarin kita juga kirim atlet Perbakin untuk mengikuti kejuaraan, InsyaAllah mereka masih berjuang untuk meraih prestasi,” kata Ketua Harian KONI Provinsi Bengkulu, Dali Sukma.

Sebelumnya, pada akhir 2025, KONI Bengkulu juga mengikutsertakan lima cabor dalam PON Bela Diri di Kudus, Jawa Tengah. Kontingen Bengkulu berhasil membawa pulang lima medali perunggu.

“Tahun 2025 akhir KONI kirim atlet kita beberapa cabor, ada lima cabor untuk mengikuti PON Bela Diri. Alhamdulillah kita dapat lima medali perunggu saat itu,” ujar Dali.

Menurut Dali, capaian tersebut menjadi salah satu langkah awal kebangkitan olahraga Bengkulu. Kepengurusan baru KONI kini berupaya melakukan pembenahan dari hulu hingga hilir, mulai dari tata kelola organisasi, transparansi anggaran hingga pola pembinaan atlet.

Program Pembinaan Atlet Jangka Panjang menjadi salah satu bentuk pembenahan tersebut. Program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian uang pembinaan, tetapi juga mencakup program latihan, pemenuhan gizi, perlindungan sosial hingga reward bagi atlet berprestasi.

“Bengkulu tidak kekurangan atlet bagus, tapi selama ini kurang bahkan tidak sama sekali mendapatkan pembinaan yang benar-benar terprogram,” tegas Dali, mantan atlet silat Bengkulu.

Menurut Dali, program pembinaan jangka panjang tersebut menjadi persiapan KONI menghadapi PON XXI 2028 di Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).

“Bukan saya membanding-bandingkan, baru di KONI sekarang inilah ada Program Pembinaan Atlet untuk persiapan PON dua tahun yang akan datang. Jadi KONI Provinsi Bengkulu sudah memberikan pembinaan kepada atlet dan pelatih yang setiap hari dilatih dan dimonitoring,” jelasnya.

KONI, lanjut Dali, terus memantau perkembangan atlet dan mengevaluasi program yang dibutuhkan agar atlet benar-benar siap menghadapi PON.

“Kita optimis, PON NTB-NTT kita akan lebih siap lagi,” katanya.

Dali memastikan atlet yang masuk dalam program pembinaan tidak dipilih secara sembarangan. Seleksi dilakukan berdasarkan tracking dan track record, mulai dari jam terbang, keikutsertaan dalam kejuaraan, hingga prestasi yang pernah diraih.

Menuju PON XXI 2028, KONI Provinsi Bengkulu menargetkan lima medali emas sekaligus menembus posisi 25 besar nasional. Sebanyak 17 cabor ditetapkan sebagai cabor unggulan dan telah masuk dalam program pembinaan.

“Untuk cabor unggulan ada 17 cabor, sesuai dengan data kita pada PON-PON kemarin, cabor-cabor yang pernah ikut PON dan dapat medali saat PON. Makanya ada 17 cabor yang kita persiapkan untuk PON NTB dan NTT,” beber Dali.

Ia menegaskan, 17 cabor tersebut menjadi prioritas berdasarkan rekam jejak prestasi. Namun, cabor lainnya tetap memiliki peluang untuk meraih medali.

“Bukan berarti cabor-cabor lain tidak berpeluang mendapat medali, bukan. Tapi cabor yang biasa mendapatkan medali, 17 cabor itu yang kita persiapkan,” sambungnya.

Dali optimistis target lima medali emas dan masuk 25 besar dapat diwujudkan. Ia tidak ingin Bengkulu kembali menjadi juru kunci dalam perolehan medali PON.

“Target kita lima medali emas, masuk 25 besar. Kemarin kita juru kunci, jangan sampai terulang lagi. InsyaAllah di PON nanti, dengan adanya pembinaan jangka panjang seperti ini, kita Bengkulu bisa meraih lima medali emas itu,” tukasnya.

Menurut Dali, pembinaan berkelanjutan menjadi kunci untuk melahirkan prestasi.

“Sebab berdasarkan pengalaman selama ini, tanpa pembinaan jangan harap ada medali emas,” tegasnya.

Untuk memperkuat pembinaan, KONI Bengkulu juga menggandeng berbagai pihak. Salah satunya melalui Program Perlindungan Sosial dengan Bank Bengkulu dan BPJS Ketenagakerjaan.

Selain perlindungan sosial, Gubernur Bengkulu juga telah menyiapkan reward sebesar Rp1 miliar bagi atlet yang sukses meraih medali emas pada PON mendatang. Atlet berprestasi juga dijanjikan dukungan berupa jaminan lapangan pekerjaan.

Saat ini, KONI Bengkulu tengah mempersiapkan penyelenggaraan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) X yang dijadwalkan berlangsung pada awal Desember 2026.

KONI juga kembali mempersiapkan kontingen untuk mengikuti PON Bela Diri di Manado, Sulawesi Utara.

“Binpres (Bidang Pembinaan Prestasi) saat ini lagi mempersiapkan untuk PON Bela Diri di Sulawesi Utara. InsyaAllah di PON Bela Diri Sulut nanti kita akan kembali meraih prestasi dan prestasi yang diraih akan lebih kita tingkatkan lagi,” kata Dali.

Dali menegaskan, KONI Bengkulu memilih fokus bekerja dan meningkatkan prestasi ketimbang larut dalam isu.

“Makanya kami tidak terlalu menanggapi isu, fokus kami bagaimana KONI ini jadi lebih baik lagi dan atlet-atlet kita kian berprestasi,” demikian Dali Sukma.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *