Mediasi Berujung Damai, Tiga Guru dan Yayasan Ma’had Rabbani Akhiri Persoalan

Daerah607 Dilihat

Bengkulu, Rabu, 16 September 2026 — Persoalan antara tiga guru SDIT Rabbani, Tita, Elsinta, dan Ririn, dengan Yayasan Ma’had Rabbani Bengkulu, akhirnya diselesaikan secara damai melalui mediasi di Kantor Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kota Bengkulu.

Pertemuan berlangsung pada Rabu, 16 September 2026, sekitar pukul 10.00 WIB. Dari pihak Yayasan Ma’had Rabbani, hadir langsung Ustadz Syamlan selaku pimpinan bersama pihak terkait.

Mediasi berlangsung dalam suasana terbuka, tenang, dan penuh kekeluargaan. Kedua pihak duduk bersama untuk mencari penyelesaian terbaik atas persoalan yang terjadi.

Melalui dialog dan musyawarah, persoalan tersebut akhirnya dapat diselesaikan secara damai. Ketiga guru dan pihak Yayasan Ma’had Rabbani saling bermaafan serta sepakat mengakhiri persoalan dengan semangat saling menghargai.

Ustadz Syamlan: Damai Lebih Berharga daripada Materi

Saat keluar dari ruang mediasi dan menemui awak media, Ustadz Syamlan menyampaikan rasa syukurnya atas penyelesaian persoalan tersebut.

“Alhamdulillah, persoalan selesai. Kita saling berdamai,” kata Ustadz Syamlan.

Ketika ditanya mengenai besaran pesangon yang diberikan kepada ketiga guru tersebut, Ustadz Syamlan menegaskan bahwa nilai materi bukanlah hal yang utama.

“Tidak terlalu penting nilai materi itu. Yang penting dan lebih berharga adalah damai dan tetap terjalinnya silaturahmi,” ujarnya.

Ia juga mengajak semua pihak untuk saling membantu dan menebar kebaikan, khususnya dalam bidang pendidikan demi kemajuan bangsa dan negara, terutama Provinsi Bengkulu.

Rabbani Disebut sebagai Aset Pendidikan Bengkulu

Dalam kesempatan tersebut, Ustadz Syamlan turut menjelaskan perjalanan Yayasan Ma’had Rabbani yang telah berkembang di Bengkulu.

“Rabbani ini bukan saya yang mendirikan. Rabbani ini sudah ada sebelum saya datang di Bengkulu. Pendirinya putri asli Bengkulu, alumni SMAN 5,” jelasnya.

Menurutnya, Rabbani merupakan aset asli Bengkulu yang memiliki sejarah panjang. Berawal dari TPQ dengan guru-guru yang belum menerima gaji, Rabbani kini telah berkembang dengan sejumlah lembaga pendidikan.

Lembaga tersebut meliputi TK Rabbani, SDIT Rabbani, SMPIT Rabbani, SMAIT Rabbani, dan PPIIT Rabbani.

“Jumlah guru sekitar 150 orang, yang semuanya digaji dengan cukup layak,” ungkap Ustadz Syamlan.

Silaturahmi Tetap Menjadi Prioritas

Bagi keluarga besar Rabbani, penyelesaian persoalan ini bukan semata-mata tentang siapa yang menang atau kalah. Hal yang lebih penting adalah menjaga silaturahmi, kehormatan, persaudaraan, dan kemaslahatan bersama.

“Persoalan boleh datang, tetapi persaudaraan jangan sampai hilang,” demikian pesan yang mengemuka dalam penyelesaian tersebut.

Penyelesaian ini menjadi pengingat bahwa setiap persoalan dapat menemukan jalan keluar ketika semua pihak bersedia membuka hati, duduk bersama, dan mengedepankan musyawarah.

Yayasan Ma’had Rabbani menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian ini, khususnya Dinas Ketenagakerjaan Kota Bengkulu, yang telah memfasilitasi pertemuan sehingga tercipta suasana dialog yang baik dan konstruktif.

Ustadz Syamlan berharap, dengan berakhirnya persoalan ini, semua pihak dapat melangkah ke depan dengan hati yang lebih lapang.

“Yang telah berlalu menjadi pelajaran. Yang tersisa kita rawat sebagai persaudaraan. Dan yang akan datang kita bangun dengan kebaikan. Rabbani yang besar ini adalah karya dan aset asli Bengkulu,” pungkas Ustadz Syamlan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *