Bengkulu — Yayasan Keluarga Besar Edward Coles menggelar Pengajian dan Sarasehan Akbar bertema “Meneladani Jejak, Membangun Masa Depan” di Masjid Raudhatul Jannah, Pematang Gubernur, Bengkulu, Sabtu (8/8/2026).
Kegiatan tersebut menjadi momentum silaturahmi sekaligus konsolidasi keluarga besar Edward Coles untuk menyatukan visi dalam menjaga sejarah dan nilai perjuangan Edward Coles, serta merancang program pendidikan bagi generasi mendatang.
Rachmat Riyanto, Bupati Bengkulu Tengah yang juga merupakan bagian dari keluarga besar Edward Coles, mengatakan pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk menyatukan visi keluarga besar sekaligus menggalang dukungan dari berbagai pihak.
“Alhamdulillah, hari ini keluarga besar Edward Coles bertemu di Masjid Raudhatul Jannah ini dalam rangka mengonsolidasi dan menyatukan visi-visi kita,” ujar Rachmat.
Ia mengatakan, salah satu visi yang tengah didorong keluarga besar adalah pembangunan yayasan pendidikan yang bergerak di bidang pendidikan, khususnya pesantren modern.
Menurutnya, upaya tersebut membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, tidak hanya dari keluarga besar Edward Coles, tetapi juga pemerintah dan masyarakat.
“Kita mengarahkan bantuan dari berbagai pihak, bukan hanya keluarga besar Edward Coles, tetapi juga semua pihak. Sekarang ada Pak Deddy, Pak Wali Kota juga, dan semuanya memberikan dukungan. Mudah-mudahan niat baik ini dikabulkan oleh Allah SWT,” katanya.
Rachmat juga menilai penetapan makam Edward Coles sebagai cagar budaya oleh pemerintah menjadi pengakuan penting terhadap keberadaan tokoh tersebut.
Ia menyebut penetapan itu sekaligus menjawab berbagai anggapan yang selama ini menyebut Edward Coles sebagai tokoh fiktif.
“Dengan dinyatakannya makam Edward Coles sebagai cagar budaya oleh pemerintah, berarti sah bahwa tokoh tersebut memang benar-benar ada dan diakui oleh pemerintah,” ujarnya.
Rachmat mengajak seluruh keluarga besar Edward Coles yang berada di berbagai daerah untuk memperkuat persatuan dan bersama-sama melanjutkan berbagai pekerjaan yang berkaitan dengan sejarah dan warisan Edward Coles.
“Pekerjaan yang besar akan menjadi kecil dan yang kecil akan semakin ringan kalau kita kerjakan secara bersama-sama,” katanya.
Sementara itu, Anggota DPRD Kota Bengkulu dari Partai Amanat Nasional (PAN), Dediyanto, memberikan apresiasi terhadap kegiatan yang digelar keluarga besar Edward Coles.
Menurut Dediyanto, keberadaan Edward Coles semakin kuat berdasarkan berbagai kajian sejarah, termasuk penelitian yang dilakukan oleh Harius Eko Saputra.
“Tokoh ini tidak fiktif, tokoh ini ada, makamnya ada, dan silsilah sejarahnya ada,” ujar Dediyanto.
Ia juga mengapresiasi penetapan makam Edward Coles sebagai cagar budaya dan menilai langkah tersebut perlu ditindaklanjuti melalui kerja bersama antara keluarga, pemerintah, Balai Pelestarian Kebudayaan, serta pihak-pihak yang memiliki perhatian terhadap sejarah Bengkulu.
Dediyanto mengatakan, ke depan perlu dilakukan identifikasi terhadap tempat-tempat lain yang telah ditetapkan sebagai cagar budaya untuk kemudian diperkuat melalui kolaborasi dengan Pemerintah Kota Bengkulu.
“Kita akan berkolaborasi dengan teman-teman di Balai, keluarga besar Edward Coles, dan juga keluarga besar lainnya yang mencintai sejarah yang ada di Bengkulu,” katanya.
Buku Sejarah Edward Coles Hampir Rampung
Penulis buku tentang Edward Coles sekaligus akademisi Universitas Dehasen Bengkulu, Harius Eko Saputra, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi keluarga besar untuk mengenang sejarah kehidupan Edward Coles.
Harius menjelaskan, keluarga besar juga memiliki visi untuk membangun sekolah pesantren yang rencananya diberi nama Pesantren Al-Badar.
Nama Al-Badar, kata Harius, berkaitan dengan tradisi lisan masyarakat dan keluarga yang menyebut Edward Coles dengan nama atau sebutan “Mister Badar”.
Ia juga mengungkapkan bahwa penelitian mengenai Edward Coles telah dilakukan melalui penelusuran berbagai dokumen sejarah, termasuk riset di British Library.
Penelitian tersebut mencakup perjalanan Edward Coles sejak menempuh pendidikan di Inggris hingga perjalanan kariernya di Fort Marlborough dan wilayah Bengkulu pada masa itu.
“Dokumennya sudah rampung, hanya narasinya yang belum selesai. Masih ada dua bab lagi. Insyaallah, dalam bulan ini akan kami rampungkan,” kata Harius.
Makam Diminta Tetap Dijaga Keasliannya
Sementara itu, Ketua Balai Pelestari Adat Bengkulu menyampaikan apresiasi kepada keluarga besar Edward Coles serta pihak-pihak yang terlibat dalam proses kajian hingga makam Edward Coles ditetapkan sebagai cagar budaya peringkat kota.
Ia menegaskan, setelah penetapan tersebut, pelestarian makam menjadi tanggung jawab bersama.
Ia juga mengingatkan agar setiap rencana perubahan terhadap makam terlebih dahulu dikoordinasikan dengan pihak terkait. Hal tersebut penting agar perubahan yang dilakukan tidak menghilangkan nilai penting dan sejarah yang melekat pada makam.
Menurutnya, kajian mengenai Edward Coles juga masih dapat terus dikembangkan sehingga ke depan status cagar budaya tersebut berpeluang ditingkatkan ke tingkat provinsi maupun nasional, tentunya berdasarkan kajian dan nilai penting yang dimiliki.
Ia turut mengapresiasi penelitian yang dilakukan Harius Eko Saputra dan berharap buku mengenai Edward Coles yang tengah diselesaikan dapat menjadi salah satu referensi penting bagi upaya pelestarian sejarah.
“Selain memelihara makam beliau, makam Edward Coles, kita juga harus merawat nilai-nilai perjuangan beliau,” ujarnya.
Ia menambahkan, pemerintah akan turut mengawasi kelestarian makam tersebut. Ke depan, makam Edward Coles juga diharapkan dapat menjadi salah satu tujuan kunjungan sejarah di Bengkulu.
Pengembangan makam sebagai destinasi sejarah diharapkan tidak hanya memperkuat pelestarian warisan budaya, tetapi juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, khususnya warga yang berada di sekitar lokasi makam.









