Pelindo Regional 2 Bengkulu Transformasikan GLC Berbasis Listrik, Dorong Efisiensi dan Green Port

Pelindo10 Dilihat

Bengkulu, 24 Agustus 2026 – PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 2 Bengkulu terus memperkuat transformasi operasional melalui penerapan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan. Salah satu langkah tersebut dilakukan dengan mengubah sumber energi Gantry Luffing Crane (GLC) dari bahan bakar solar menjadi tenaga listrik.

Transformasi ini merupakan bagian dari penerapan konsep Green Port yang didorong melalui inisiatif Danantara dalam transformasi BUMN. Selain mendukung upaya pengurangan emisi di lingkungan pelabuhan, peralihan sumber energi tersebut juga memberikan manfaat dari sisi efisiensi biaya operasional.

General Manager Pelindo Regional 2 Bengkulu, Dimas Rizky Kusmayadi, mengatakan transformasi GLC menunjukkan bahwa peningkatan kualitas operasional pelabuhan dapat berjalan beriringan dengan efisiensi dan keberlanjutan.

“Transformasi ini bukan hanya soal mengganti sumber energi. Ada aspek efisiensi operasional dan keberlanjutan yang ingin kami capai secara bersamaan,” ujar Dimas.

Menurut Dimas, penggunaan energi listrik memberikan keuntungan dari sisi biaya operasional karena Pelindo tidak lagi menggunakan solar sebagai sumber energi utama GLC. Efisiensi tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan anggaran tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pengguna jasa.

“Dengan beralih dari solar ke listrik, kami dapat melakukan efisiensi biaya operasional. Di saat yang sama, aktivitas bongkar muat dapat dilakukan dengan dukungan energi yang lebih bersih,” katanya.

Transformasi GLC tersebut juga telah memberikan manfaat langsung terhadap pelayanan kepelabuhanan. Untuk pertama kalinya, GLC berbasis listrik digunakan untuk melayani kapal petikemas di Pelabuhan Bengkulu.

Penggunaan GLC dalam pelayanan kapal petikemas menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan fleksibilitas operasional terminal. Peralatan tersebut mendukung kegiatan bongkar muat petikemas sekaligus menjadi bagian dari upaya Pelindo Regional 2 Bengkulu meningkatkan kualitas pelayanan kepada pengguna jasa.

Sebelumnya, GLC di Pelabuhan Bengkulu menggunakan bahan bakar solar dalam operasionalnya. Setelah ditransformasikan menjadi berbasis listrik, peralatan tersebut memiliki tingkat kebisingan yang lebih rendah serta menghasilkan emisi langsung yang lebih minimal selama kegiatan operasional.

Dimas menambahkan, penerapan energi listrik pada peralatan bongkar muat merupakan bagian dari perubahan pola operasional pelabuhan yang tidak hanya berorientasi pada produktivitas, tetapi juga memperhatikan aspek lingkungan dan efisiensi.

“Kami ingin setiap transformasi memberikan manfaat yang nyata. Pelayanan semakin baik, biaya operasional lebih efisien, dan dampak terhadap lingkungan juga semakin kecil,” ujarnya.

Penerapan GLC berbasis listrik di Pelabuhan Bengkulu sejalan dengan arah pengembangan Green Port yang menjadi bagian dari agenda transformasi BUMN melalui Danantara. Konsep tersebut mendorong pelabuhan untuk meningkatkan efisiensi energi, mengurangi emisi, serta membangun operasional yang lebih berkelanjutan.

Transformasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya Pelindo Regional 2 Bengkulu dalam meningkatkan keandalan pelayanan pelabuhan. Ke depan, pengembangan operasional akan terus diarahkan pada peningkatan produktivitas, efisiensi biaya, keselamatan kerja, kualitas pelayanan, dan keberlanjutan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *